Tradisi Maulid Nabi yang diadakan secara rutin selama setahun sekali oleh sebgaian besar ummat Islam, seolah tak pernah surut dari perbedaan pandangan dan perdebatan. Sebagian besar ulama telah membolehkan tradisi perayaan kelahiran Nabi tersebut, namun sebagaian Ulama yang lain malah telah terlanjur memvonis Bid’ah terhadap perayaan tradisi tersebut. Lanatas, bagaimana hakikat keberadaan taradisi tersebut menurut hukum dan ijtihad para ulama?
Dalam buku Albayan Al-Qaumii Litashihi Ba’dla Mafahim Dr. Ali Jum’ah yang menjabat sebagai Mufti Mesir saat ini, memberikan pandangan dan fatawa terhadap tradisi perayaan kelahiran Nabi tesebut. Penulis disini mencoba mentaranslit dan menuangkanya dalam bentuk tulisan sederhana, sebagaimana yanag anda baca saat ini.
Tradisi perayaan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W merupakan salah satu fasilitas dari Rahmat Ilahi yang maha luas, meruntut pada bukti perkembangan sejarah peradaban umat manusia semenjak kelahiran belaiu. Sebagaimana Alqur’an menggambarkan hal tersebut dalam ayatnya “Rahmatan Lil Alamin”, Ma’na Rahmat yang terkandung dalam ayat ini memiliki kandungan ma’na yang sangat luas; tak terbatas waktu dan zaman.
Ma’na Rahmat disini meliputi pendidikan, penyucian jiwa-jiwa umat manusia, pencerahan dengan berbagai ilmu serta hidayah menuju jalan yang lurus. Sehingga dengan rahmat tersebut manusia mampu menggapai kehidupan bahagia, baik dalam taraf kehidupan materi maupun ma’nawi, tentunya tak hanya dapat dinikmati oleh ummat yang sezaman dengan Beliau melainkan abadi hingga ummat pada akhir zaman kelak “ dan (Juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum bergubungan dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” Q.S: Al-Jum’ah. 03.
Oleh sebab itu, sebagian ulama menganggap tradisi perayaan Maulid Nabi termasuk salah satu amalan utama; karena perayaan Maulid Nabi, secara tidak langsung telah menggambarkan pelakunya akan tertanamnya rasa bahagia serta kecintaannya terhadap Rasul Saw. Sedangkan Kecintaan kita kepada Nabi Saw. sebagaimana yang kita ketahui, merupakan asas dari keimanan. Sebagaiamana telah ditegaskan dalam sebuah hadist Rasulullah pernah bersabda " Demi jiwaku yang ada dalam genggamanya, sesungguhnya tak sempurna iman seseorang hingga ia mecintai diriku lebih dari kecintaanya kepada orang tua dan putranya" (Bukhari dan Muslim). dalam keterangan yang lain " Belumlah sempurna Iman seseorang hingga ia menicntai diriku lebih dari kecintaanya keoada orang tua, anak-anak dan seluruh manusia" (H.R Bukhari)
Dikatakan Ibnu Rajab: " Cinta terhhadap Nabi merupakan salah satu asas serta wasilah keiamanan seseorang untuk menggapai cinta abadi yaitu cinta kepada Allah Swt, sebagaimana Allah sendiri telah menetapkan hal tersebut.
Merupakan satu keharusan bagi setiap muslim Agar cintanya kepada Allah dan Rasulnya melebihi dari rasa cintaanya kepada kerabat, harta, negri serta segala sesuatu yang dimilikinya, sebagaimana Firman Allah (Katakanlah, "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugianya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan kekuasan-Nya." Dan ALlah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang pasik. Suatu saat Umar r.a berkata kepada Rasulullah: Engkau lebih aku cintai darpada segala apapun keculai cintaku pada diriku sndiri, Rasulullah berkata; "Tidak wahai Umar.., akan tetapi hingga cintamu kepadaku melebihi dari cintamu kepada dirimu sendiri", lalu Umar berkata "Demi Allah engkau saat ini lebih aku cintai daripada diriku sendiri" lalu Rasul berkata lagi "sekarang wahai Umar" (H.R. Bukhari).
Memeperingati Maulid Nabi Saw, termasuk salah satu cara mengenang segala kebaikan beliau. Oleh karena itu sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa mengenang segala kebaikan dan sunnah belaiu merupakan anjuran Syar'i yang perlu dan sangat ditekankan. Karena anjuran tersebut tidak lain merupakan pondasi yang mendasari adanya methode uswah hasanah dan sauri tauladan Ummat kepada Nabinya. Sebgaimana Allah S.w.t telah mengutus para Rasulnya, menempatkan derajat disisisNya, kemampuan yang dimilikinya, serta kebiasaan-kebiasaan yang mensifatinya..
Tulisan ini masih berlanjut, perlu rehab dan perbaikan....mohon kritik dan sarnya ..
makazeee..
Read more...