Banyak cerita dan pengalaman yang kita dapatkan saat menjalani hari-hari di bulan Ramdhan, terutama saat-saat kita menikmat hari raya bukan di negri sendiri. Ketupat, lontong, macam-macam kue lebaran plus rujak cuka pake bumbu pecel dan seabrek menu hidangan yang biasa mama siapkan di hari raya tak banyak menghiasi meja-meja makan kita (itupun kalo kebetulan ada meja makannya) ??!!.
Sanak family, mulai dari ayah, ibu, adek sampai anak tetangga kini tak hadir di pelupuk mata. Kenangan manis berlebaran bersama mereka saat-saat di tanah air dahulu, acapkali hadir dan tak ayal membuat kita ingin cepet-cepet angkat koper (pulang maksudnya). Kini saat-saat masa berlebaran di perantauan, kehadiran mereka hanya ada di ujung telepon, layar HP atau bersahaja “ngutak-ngatik” status FB, yang dulu statusnya sedikit narsis, kini berstatus lebaran. “Minta maaf fuuull..!!”
Bagi kita yang “terpaksa” harus menikmati hari raya bukan di negri sendiri, tentu bukan alasan bagi kita untuk berkecil hati atau malah sedih secara berlebihan karena tak ada keluarga yang bisa kita salami. “sedih banget ga ada keluarga, cuma Alhamdulillah terobati dengan banyak diadakannya acara-acara semacam open house serta kumpul-kumpul bareng teman-teman” tutur Nida, kepada Manggala. “biasa aja, soalnya sewaktu di Indo memang saya sering lebaran di di Pondok” ungkap Falih, mantan ketua Fosmagati.
Berbeda dengan Nida dan Falih, Iwan mahasisiwa asal Pelembang malah sebaliknya, “Bahagia sekali, soalnya kalo di Mesir rindu ke kampung halaman-nya lebih terasa, justru ketika nelepon, kita malah lebih akrab. Kalo di Indo kita kan sudah sangat sering bertemu jadi tidak terlalu berkesan” ungkapnya panjang lebar.
Perebdaan kultur dan budaya antara kondisi masyarakat kita (Indonesia; red.) dengan masyarakat Arab dalam menyambut hari rayapun umumnya jauh berbeda. “Lebaran disini sepi, kayak kurang khidmat”, celoteh Asep salah satu warga asal Sukabumi, kepada Manggala.
Ungkapan “sepi, engga rame dll.” pada umumnya pernah terucap atau terdetik dari lubuk hati setiap Masisir, menggambarkan kesan pertama saat lebaran di negri ini. Bagaimana tidak, layaknya di tanah air, suara takbiran dari tiap speker mesjid dan Mushola, nyaris saja tak terdengar. Kentongan bedug, bahkan takbir kelilingpun tak pernah kita temui. “Ga rame, tapi engga apa-apa yang penting bisa mengisi lebaran ini dengan totalitas dalam mengisi aktivitas Ramadhan” tambah Asep diplomatis.
Setiap kebudayaan tentu memiliki nilai positiv-negatif serta corak pandang yang memang berbeda-beda, termasuk salah satunya budaya Arab yang umumnya lebih mementingkan nilai substansi daripada simbol. Sebagai contoh, berbagai aktivitas orang Arab dalam menyambut bulan suci Ramdhan dengan totalitas ibadah serta tradisi selebrasi mereka ketika merayakan hari raya Idul Fitri yang tak terlalu berlebihan. Nah, Perbedaan inilah yang seyogyanya dapat kita pelajari.
“walaupun tak terdengar suara tadarusan Al-Qur’an dari tiap speker Mesjid, tapi mereka senantiasa mendawamkanya dalam setiap kesempatan, di bis di jalanan bahkan ketika ngantri sekalipun, pemandangan ini tentu sangat jarang kita temui di Indonesia” tutur Falih berujar. Senada dengan Falih, Andi yang bertempat tinggal di bilangan Qatamiyah ikut menuturkan kesanya “saya kagum dengan totalitas orang Mesir dalam mengagungkan bulan Ramadhan, mereka bener-bener intens. Dari kepedulian (musa’adah) para agniya-nya terhadap para pelajar asing serta aktivitas-aktivitas ibadah lainya” ungkapnya dengan nada serius.
Sementara itu, keberadaan Masisir yang cukup banyak, serta eksistensi mereka dalam berbagai komunitas dan keorganisasian, dari KBRI, PPMI, kekeluargaan, bahkan almamater, seolah-olah berlomba-lomba mengadakan agenda kegiatan yang bermacam-macam mewarnai aktivitas, mulai dari awal bulan puasa hingga hari raya tiba.
KBRI dengan Mesjid SIC-nya, tak pernah absen dengan rutinitas tahunanya mengadakan undangan Tarawih “plus-plusn”nya di daerah Dokki. Bagi Masisir yang ingin Tarawih ber-imamkan orang Indo Asli, serta dapet paket makanan gratisan plus transportasi antar jemput, siap-siap saja ngantri di depan kekeluargaan atau didepan gerbang Mission City secara bergiliran.
KBRI bekerjasama dengan PPMI dan Kekeluargaan yang hampir tak pernah absen menggelar sholat Ied bersama di mesjid Assalam. Konon, katanya di mesjid ini bacaan Sholat Tarawihnya terpanjang sealam jagad !???. “ seneng bisa sholat bersama di Assalam kumpul bareng temen-temen, jadi penawar rindu buat keluarga” tutur Dudi. “ Seneng sih, cuma dari dulu acaranya itu-itu terus, bagi yang sudah bertahun-tahun di Mesir kadang bosen, kalau bisa ada terobosan baru, semacam panggung kecil diisi dengan nasyid atau lainya, atau juga bazar makanan tiap daerah, agar engga membosankan” ungkap Iwan.
Begitu pula acara di kekeluargaan, KPMJB salah satunya. Berbagai kegiatan telah usai digelar. Dari acara unggulan; Tarhib, Tahsin, Takrim Mutafawwiqin & peringatan malam Nuzulul Qur’an, buka puasa bersama para sesepuh hingga open house dan halal bihalal seolah telah menjadi suatu tradisi yang tak boleh terlewatkan.
“Alhamdulillah semua kegiatan yang telah direncanakan berjalan lancar, walaupun masih banyak kekurangan” ucap Firadus, koordinator sosial KPMJB. “hanya saja tahun ini antusias warga kurang begitu besar seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin publikasi sudah, tapi sosialisasinya masih kurang” tambahnya lagi menyayangkan. “selain karena kesibukan masing-masing, kita memang terlamabat, mulai pengangkatan sampai pelantikan DP. Jadi masih kurang sigap” tutur Kang Imam, menaggapi evaluasi kerja DP selama bulan ramadhan.
Anyway, Ramdhan sudah beranjak meninggalkan kita, sedih karena ditinggal lalu berharap agar dipertemukan kembali adalah anjuran, tetapi menyesali masa lalu bukanlah satu pilihan. Saat ini, saat syawwal mulai menjelang mari kita tunjukan bahwa pengaruh Ramdhan masih ada dalam diri dan jiwa kita. Terus memperbaiki, dan mengembangkan diri, tentu tak hanya saat Ramdhan bukan..??!!. Semoga..!!
Read more...