
Disuatu pagi, sekitar pukul 07.30 sepulangnya dari rumah teman, aku berjalan di trotoar sempit antara pertigaan Ahmad Said menuju Asrama Buust melewati Sinagog Yahudi yang tak berfungsi tapi mulai diperbaiki dan dijaga ketat oleh dua orang polisi. Selanjutnya melewati pertigaan Nadi Moyah tentunya. Seperti biasa, rute Robea Al adwayiah-Buust via pertigaan Ahmad Said merupakan salahsatu pilihan alternatif bagiku bahkan bagi kebanyakan masisir yang tinggal di asrama Mission City bila bis biasa tak kunjung tiba.
Trotoar tersebut masih terlalu sepi dan sempit, sesepi negri Mesir dikala pagi dan sesempit kebanyakan trotoar di negri ini. Jalananpun masih cukup senggang hanya sesekali dilewati kendaraan pribadi, “mungkin mereka salah satu yang punya janji, janji untuk keluarga atau untuk dirinya sendiri” gumamku dalam hati. Hampir tak ada kendaraan umum atau malah tak ada sama sekali, apalagi saat itu masih H-3 dari lebaran Haji.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku merasa diikuti oleh sesosok orang, dan akupun merasa sewajarnya bila menaruh curiga. Selanjutnya, ku lirikan mataku ke arahnya. Beruntung kawan, ternyata dia hanya seorang bapak-bapak paruh baya namun jalanya seperti terburu-buru. Merasa dicurigai anak muda “tampan” macamku, si bapak mengalihkan jalanya ke tepi jalan. Dan kawan, saat-saat seperti inilah aku merasa berdosa, kenapa tadi aku harus curiga? Kenapa tak kutanya terlebih dahulu. Bapak penjahat atau bukan? Jika bukan, tentu kan’ ku ajak dia berkawan. Jika ya, tentu kan’ ku keluarkan jurus-jurusku, jurus teriak maut atau jurus lari terbirit-birit. “tapi ah...ku kira jangan kawan, ide itu terlalu canggih!”
Setelah mendekati pertigaan nadi Moyah, aku teringat sesuatu, yah...teringat dengan sesosok bapak tua yang tak berkaki, dan seringkali dia mangkal di pertigaan itu. Aku teringat dengan keikhlasanya— ketulusanya menyapa setiap pejalan kaki dengan salam, senyum lalu doa kebaikan, akrab...akrab sekali. Fisik bapak itu tak sempurna, dia tak berkaki, sehari-harinya duduk diatas skateboard sederhana, jika berjalan roda-roda besinya akan mengeluarkan suara yang bisingnya minta ampun, “kruuuuk...krurrrk” mengalahkan suara kendaraan yang hilir mudik di hadapanya. Entah siapa yang membuatkannya, anak-anaknyakah, saudaranyakah, yayasan sosialkah, atau malah dibuatkan olehnya sendiri?!
Berjalan, makan, menerima uang, semuanya dilakukan dengan kedua tanganya, hati siapa yang tak kan iba memandangnya? Tapi ketulusanya, senyuman dan kepolosan sapaanyanya kepada setiap pejalan kaki telah membuat aku kagum dengan sosoknya. Senyumanya telah mengajariku agar jangan pernah mengeluh, ketulusanya telah mengajariku agar aku selalu bersyukur, sapaanya telah mendidik jiwaku agar dapat selalu menikmati kehidupan fana ini disaat sempit maupun lapang, disaat kaya maupun miskin. Dan kawan, aku tak pernah melihat beliau menengadahkan tangan seperti kebanyakan pengemis lainya, dia hanya akan tersenyum lalu menyapa setiap pejalan kaki.
Wajahnya sedikit menghitam, mungkin karena seharian dibawah sinar mentari juga karena asap volusi. Beruntung kawan, senyumanya selalu menyegarkan wajahnya kembali. Mungkin dalam senyumnya ada kesyukuran lalu berusaha memberikan sodaqah sederhana bagi tiap pejalan kaki. Dalam ketulusanya ada ketegasan, ketegasan bahwa dia sedang menikmati taqdir Ilahi. Atau jangan-jangan dia seorang kesatria, kesatria yang tak pernah mengeluh pada nasib atau pada ketetapan Tuhan yang penuh misteri lalu dia berusaha mensyukurinya. Sayang waktu itu aku tak menemukanya, lalu tiba-tiba hati ini merindukanya.
Fenomena pengemis di jalanan, di bis bahkan dimanapun kita temukan, tentunya tak selamanya berimplikasi buruk. Bukan melulu pemandangan seorang pengangguran atau gambaran negara berkembang yang sedang mengalami frigid dan tak maju-maju—bisa jadi karena anggarannya banyak dimakan koruptor atau malah kebanyakan menggajih dewan, lantas tak mampu lagi ciptakan lapangan pekerjaan.
Malah, Jika dengan hati terbuka maka kita akan melihat pemandangan makhluk-makhluk “lusuh” yang pantang menyerah, walaupun bukan dengan “profesi” yang mereka cita-citakan namun diantaranya tetap ikhlas, sabar mejalani hak providensil Tuhan yang digariskan. Keberadaanya senantiasa memberikan pelajaran berharga, yaitu pelajaran bersyukur dan gerakan saling mengasihi.
Kawan, Ada perbedaan cukup kontras antara fenomena pengemis di negri ini dengan di tanah air kita, “menurutku”. Di Mesir, hampir saja aku tak menemukan pengemis yang tak berbaju lusuh apalagi sampai memaksa kasar. Di Indonesia, pendidikan mengemis malah banyak di galakan, menyedihkan..! Di dalam bis kota seorang pengemis tak ubahnya seperti preman pelabuhan, tubuhnya kekar, wajahnya menyeramkan dan tak sungkan mengancam. Sayang, tubuh yang gagah dan kekar namun mentalnya peminta-minta.
Prie GS, dalam tulisanya, dia pernah bertemu seorang bapak paruh baya di dalam angkot. Suatu ketika si bapak menolak dipungut bayaran, tampangnya seperti kebanyakan. Tentu menjadi sangat ganjil jika menolak bayaran.
“saya ini pengemis” ujarnya kepada karnet. Kemudian terjadi adu mulut antara si karnet dan si bapak yang mengaku pengemis tersebut. Tak lama kemudian, adu mulutpun berakhir itu terjadi setelah si bapak menunjukan sesuatu dari tasnya, sambil berujar, “ini pakaian ngemis saya..!” si kornetpun melongo keheranan. Ironis..!
Bahkan para pengemis kita duduk-duduk santai di kursi dewan, mengaku pembantu rakyat tapi sering ketiduran saat berlangsungnya sidang malah kadang gila jabatan. Bahkan ada juga pengemis di kantor-kantor sekolahan, mengambil sogokan dari tiap wali nakal yang punya anak nakal. Atau baru-baru ini di kantor-kantor kepolisian atau kejakaan, hilang keadilan gara-gara ngambil “tambahan”. Menyedihakan..!
Lalu siapa yang akan disalahkan...!?, Penjajahan Belandakah yang tega menjajah kita selama 3,5 abad dan secara tidak langsung mendidik pendahulu kita untuk bermental abid. Atau orde barukah yang telah mengekang kebebasan kita selama 32 tahun...!? Ah’ rupanya aku terlalu sok tahu, padahal semuanya tergantung pada diri kita sendiri.
Terkadang aku berpikir, jangan-jangan aku malah one tipe dengan mereka (para pengemis; red). Walaupun dengan pakaian sedikit lebih rapih, fasilitas kehidupan sedikit lebih lengkap misalnya, sudah berani mengemis jarak, biaya dan waktu kepada orang tua misalnya, tapi aku malah berani banyak-banyak berdiam diri lalu asyik tiduran. Memohon ilmu kepada guru, tapi malas mengamalkan. Aktiv di beberapa kegiatan misalnya, tapi aku malah mengemis pujian. Banyak berkarya tapi aku gila ketenaran. Oh...tidaaaaaak...!!!
Ok..ok kawan, mudah-mudahan kita tidak seburuk itu, semoga hati kita selalu tetap siaga, ikhlas saat sempit maupun luas. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, bersyukur dengan apa yang ada lalu bersyukur dengan tetap mengoptimalkan setiap waktu dan kesempatan serta mengedepankan asas manfaat, bukan hanya untuk pribadi bahkan untuk masyarakat yang lebih luas. Khairu annasu anfau’hum linnas.
Wallahua’lam
Read more...
