Tuesday, March 16, 2010

Para Pengemis


Disuatu pagi, sekitar pukul 07.30 sepulangnya dari rumah teman, aku berjalan di trotoar sempit antara pertigaan Ahmad Said menuju Asrama Buust melewati Sinagog Yahudi yang tak berfungsi tapi mulai diperbaiki dan dijaga ketat oleh dua orang polisi. Selanjutnya melewati pertigaan Nadi Moyah tentunya. Seperti biasa, rute Robea Al adwayiah-Buust via pertigaan Ahmad Said merupakan salahsatu pilihan alternatif bagiku bahkan bagi kebanyakan masisir yang tinggal di asrama Mission City bila bis biasa tak kunjung tiba.

Trotoar tersebut masih terlalu sepi dan sempit, sesepi negri Mesir dikala pagi dan sesempit kebanyakan trotoar di negri ini. Jalananpun masih cukup senggang hanya sesekali dilewati kendaraan pribadi, “mungkin mereka salah satu yang punya janji, janji untuk keluarga atau untuk dirinya sendiri” gumamku dalam hati. Hampir tak ada kendaraan umum atau malah tak ada sama sekali, apalagi saat itu masih H-3 dari lebaran Haji.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku merasa diikuti oleh sesosok orang, dan akupun merasa sewajarnya bila menaruh curiga. Selanjutnya, ku lirikan mataku ke arahnya. Beruntung kawan, ternyata dia hanya seorang bapak-bapak paruh baya namun jalanya seperti terburu-buru. Merasa dicurigai anak muda “tampan” macamku, si bapak mengalihkan jalanya ke tepi jalan. Dan kawan, saat-saat seperti inilah aku merasa berdosa, kenapa tadi aku harus curiga? Kenapa tak kutanya terlebih dahulu. Bapak penjahat atau bukan? Jika bukan, tentu kan’ ku ajak dia berkawan. Jika ya, tentu kan’ ku keluarkan jurus-jurusku, jurus teriak maut atau jurus lari terbirit-birit. “tapi ah...ku kira jangan kawan, ide itu terlalu canggih!”

Setelah mendekati pertigaan nadi Moyah, aku teringat sesuatu, yah...teringat dengan sesosok bapak tua yang tak berkaki, dan seringkali dia mangkal di pertigaan itu. Aku teringat dengan keikhlasanya— ketulusanya menyapa setiap pejalan kaki dengan salam, senyum lalu doa kebaikan, akrab...akrab sekali. Fisik bapak itu tak sempurna, dia tak berkaki, sehari-harinya duduk diatas skateboard sederhana, jika berjalan roda-roda besinya akan mengeluarkan suara yang bisingnya minta ampun, “kruuuuk...krurrrk” mengalahkan suara kendaraan yang hilir mudik di hadapanya. Entah siapa yang membuatkannya, anak-anaknyakah, saudaranyakah, yayasan sosialkah, atau malah dibuatkan olehnya sendiri?!

Berjalan, makan, menerima uang, semuanya dilakukan dengan kedua tanganya, hati siapa yang tak kan iba memandangnya? Tapi ketulusanya, senyuman dan kepolosan sapaanyanya kepada setiap pejalan kaki telah membuat aku kagum dengan sosoknya. Senyumanya telah mengajariku agar jangan pernah mengeluh, ketulusanya telah mengajariku agar aku selalu bersyukur, sapaanya telah mendidik jiwaku agar dapat selalu menikmati kehidupan fana ini disaat sempit maupun lapang, disaat kaya maupun miskin. Dan kawan, aku tak pernah melihat beliau menengadahkan tangan seperti kebanyakan pengemis lainya, dia hanya akan tersenyum lalu menyapa setiap pejalan kaki.

Wajahnya sedikit menghitam, mungkin karena seharian dibawah sinar mentari juga karena asap volusi. Beruntung kawan, senyumanya selalu menyegarkan wajahnya kembali. Mungkin dalam senyumnya ada kesyukuran lalu berusaha memberikan sodaqah sederhana bagi tiap pejalan kaki. Dalam ketulusanya ada ketegasan, ketegasan bahwa dia sedang menikmati taqdir Ilahi. Atau jangan-jangan dia seorang kesatria, kesatria yang tak pernah mengeluh pada nasib atau pada ketetapan Tuhan yang penuh misteri lalu dia berusaha mensyukurinya. Sayang waktu itu aku tak menemukanya, lalu tiba-tiba hati ini merindukanya.

Fenomena pengemis di jalanan, di bis bahkan dimanapun kita temukan, tentunya tak selamanya berimplikasi buruk. Bukan melulu pemandangan seorang pengangguran atau gambaran negara berkembang yang sedang mengalami frigid dan tak maju-maju—bisa jadi karena anggarannya banyak dimakan koruptor atau malah kebanyakan menggajih dewan, lantas tak mampu lagi ciptakan lapangan pekerjaan.

Malah, Jika dengan hati terbuka maka kita akan melihat pemandangan makhluk-makhluk “lusuh” yang pantang menyerah, walaupun bukan dengan “profesi” yang mereka cita-citakan namun diantaranya tetap ikhlas, sabar mejalani hak providensil Tuhan yang digariskan. Keberadaanya senantiasa memberikan pelajaran berharga, yaitu pelajaran bersyukur dan gerakan saling mengasihi.

Kawan, Ada perbedaan cukup kontras antara fenomena pengemis di negri ini dengan di tanah air kita, “menurutku”. Di Mesir, hampir saja aku tak menemukan pengemis yang tak berbaju lusuh apalagi sampai memaksa kasar. Di Indonesia, pendidikan mengemis malah banyak di galakan, menyedihkan..! Di dalam bis kota seorang pengemis tak ubahnya seperti preman pelabuhan, tubuhnya kekar, wajahnya menyeramkan dan tak sungkan mengancam. Sayang, tubuh yang gagah dan kekar namun mentalnya peminta-minta.

Prie GS, dalam tulisanya, dia pernah bertemu seorang bapak paruh baya di dalam angkot. Suatu ketika si bapak menolak dipungut bayaran, tampangnya seperti kebanyakan. Tentu menjadi sangat ganjil jika menolak bayaran.

“saya ini pengemis” ujarnya kepada karnet. Kemudian terjadi adu mulut antara si karnet dan si bapak yang mengaku pengemis tersebut. Tak lama kemudian, adu mulutpun berakhir itu terjadi setelah si bapak menunjukan sesuatu dari tasnya, sambil berujar, “ini pakaian ngemis saya..!” si kornetpun melongo keheranan. Ironis..!

Bahkan para pengemis kita duduk-duduk santai di kursi dewan, mengaku pembantu rakyat tapi sering ketiduran saat berlangsungnya sidang malah kadang gila jabatan. Bahkan ada juga pengemis di kantor-kantor sekolahan, mengambil sogokan dari tiap wali nakal yang punya anak nakal. Atau baru-baru ini di kantor-kantor kepolisian atau kejakaan, hilang keadilan gara-gara ngambil “tambahan”. Menyedihakan..!

Lalu siapa yang akan disalahkan...!?, Penjajahan Belandakah yang tega menjajah kita selama 3,5 abad dan secara tidak langsung mendidik pendahulu kita untuk bermental abid. Atau orde barukah yang telah mengekang kebebasan kita selama 32 tahun...!? Ah’ rupanya aku terlalu sok tahu, padahal semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Terkadang aku berpikir, jangan-jangan aku malah one tipe dengan mereka (para pengemis; red). Walaupun dengan pakaian sedikit lebih rapih, fasilitas kehidupan sedikit lebih lengkap misalnya, sudah berani mengemis jarak, biaya dan waktu kepada orang tua misalnya, tapi aku malah berani banyak-banyak berdiam diri lalu asyik tiduran. Memohon ilmu kepada guru, tapi malas mengamalkan. Aktiv di beberapa kegiatan misalnya, tapi aku malah mengemis pujian. Banyak berkarya tapi aku gila ketenaran. Oh...tidaaaaaak...!!!

Ok..ok kawan, mudah-mudahan kita tidak seburuk itu, semoga hati kita selalu tetap siaga, ikhlas saat sempit maupun luas. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, bersyukur dengan apa yang ada lalu bersyukur dengan tetap mengoptimalkan setiap waktu dan kesempatan serta mengedepankan asas manfaat, bukan hanya untuk pribadi bahkan untuk masyarakat yang lebih luas. Khairu annasu anfau’hum linnas.
Wallahua’lam
Read more...

Monday, March 8, 2010

Dari Nazi, Yahudi Samapai China


Ngebet pengen nulisin apa yang ada di otak, tapi tangan ini tak kunjung bergerak, ah jadi mules rasanya...."kunaon jang, dahar cabe..?! :D..". Apalagi kalo dah megang FB..., komplikasi jadina...

ya kadang ketika ada kesempatan buat nulis, pengen ngesay, pengen jalan, pengen nonton, pengen apa. Jadinya, ya.. ga jadi jadi. Tapi itu mungkin emang sudah godaan, atau kurangnya kemauan. Taulah..?!


Ok ok biar tulisan ini agak sedikit bermanfaat, khususnya buat ane yang nulis, juga buat temen2 yang memang berkesempatan buat baca note ini, ya.. kali aja kan', ada yang mau kasih masukan, atau sekedar berbagi cerita sama yang lagi nahan laper, "eh salah..slah" maksot gw yang lagi pengen nulis apa yang ada di kepalanya, tapi ga jadi2 nulisnya, kayak ane sekarang ini, gawat kan?! "anak gajah makan kawat, nya jelas mati.. atuh, o'on heheh" (eh..eh Sory..:))

Eumhh..apa ya..?!

Ane mulai dari peristiwa singkat ketika duduk-duduk santai bareng di Pasangrahan. eum..waktu itu kita kelaperan "ma'lum baru bangun dari tidur semalaman"

Kita berlima, terus.. sambil nungguin ada yang bersedia kebawah buat beli makanan, tiba-tiba kita ngobrolin tentang Nazi, Yahudi terus ke budaya China, ga jelas darimana asal muasal obrolan. pokoknya gitu aja. titik.

Diawali dengan buka2 file koleksi album di PC teman. Disana ada foto2 dia lagi action, dekat perbukitan daerah matruh. "kayak di sinai ya...?" tanya teman disebelahku. 'eh iya ya...' kata teman yang satu lagi

"ngomong-ngomong Sinai, menurut berita, sekarang sebagian tanahnya telah dihibahkan Mesir buat Palestina. Katanya sih..itu atas desakan Amerika dan Israel. soalnya sebagian tanah Palestina di Gaza terus dijajah israel buat pemukiman orang-orang Yahudi" kataku agak sotoy.

"dasar we..yahudimah sagala digalaksak, engges wee kabeh ku yahudi, tumanlah..!' kata temen ane ikut kesel.

"itulah watak Yahudi. bahkan tidak ada satu keteranganpun yang mengatakan bahwa ada satu kelompok bani isarel yang dinyatakan setia taat kepada Nabi, sebagaiamana kaum muslimin atau sebagaiaman 12 orang pengikut setia Nabi Isya (hawariyun). kecenderungan mereka selalu ingin melenceng, kecuali mungkin perindividu saja yang sadar dan tobat, tidak sampai pada keterangan kelompok." (kata siapa yah..ini??!)

Ketika buka2 album yang lain, ane lihat ada tempat persembunyian tentara Nazi di daerah Matruh, Kebetulan temanku emang pernah travel kesana, salah satu tempat rekreasi di Mesir. .


"eh ko ada tentara nazi disini si..?"tanyaku heran.
"oo iya itu tempat persembunianya waktu PD II" jawabnya singkat.

Terus ada juga temanku yang lagi kelaperan, "eh..ternyata orang jerman, mereka sangat bangga lho..dengan Hitler dan tentara Nazinya!!!"

"iya dong...siapa lagi kan yang mau membanggakan hasil negrinya sendiri" ucap ane.
"o iya jelas, harus bangga" kata Akang ikutan nimbrung..

'eumm, ternyata tentara Nazi ada dimana-mana yah...' kataku. "kalo ga salah, dulu ane pernah baca juga, katanya di Indonesia ada salah satu komplek kuburan tentara Nazi. nah, setelah di telusuri sejarahnya, ternyata mereka adalah para tentara yang diutus Hitler untuk membunuh/mencari orang2 Yahudi yang melarikan diri Ke Indoensia ketika masa-masa perang dunia ke II" kataku masih dalam keadaan setengah sotoy, hehe....

Dalam majalah sabili edisi sekian, ketika orang2 Yahudi mengalami banyak penganiyayaan khususunya di daratan Eropa mereka banyak mlarikan diri, menjadi imigran ke berbagai negri, termasuk ke Indonesia.

Salah satu kepintaran Yahudi, mereka selalu berusaha menguasai para petinggi yang berada di tempat tersebut. Ketika di Indonesia mereka berusaha menikahi gadis-gadis, dimana orang tuanya yang memang memiliki privilese di tempat tersebut. salah satu buktinya adalah Ahmad Dhani, Dewa. kata majalah tesebut memiliki keturunan Yahudi, entah nenek atau kakeknya, lupha.....

"oo pantesan lambang2nya mirip lambang Yahudi....' kata temen ane ikut mengomentari...

Bahkan di daerah Jatim, sudah terdapat Sinagog. Cuma ketika diinvestegasi, penjaganya berusaha mengelak dan mengatakan kalau bangunan ini hanya rumah biasa, padahal didalamnya ada mimbar serta beberapa lambang yang dipakai umat Yahudi. Juga katanya ada di Bandung, cuma sayang keberadaanya tidak bisa di ivestigasi.

kembali lagi ke bahasan semula, bagaiamana Yahudi banyak yang diusir dan banyak melarikan diri. Itu, karena orang2 Yahudi dianggap sangat membahayakan mereka, makanya kan ada istilah Holoucus, (walaupun jumlah korban dan dahsyatnya peristiwa tersebut banyak sekali kedustaan.

Mereka; Yahudi, mebesar-besarkan peristiwa Holoucus sebagai tragedi penganiyayan bagi umat Yahudi. Demi mengambil simpati dunia agar mau melindungi komunitas mereka. Salah satunya Inggris ( yang menjajah Palestina saat itu) yang bersimpati dan mempersilahkan mereka untuk Hijrah ke Palestina )

Ane lupa lagi, arah pembicaraan menuju kemana.., yang penting waktu itu, kita mumggu datang makanan buat sarapan pagi.

Akhirnya dateng juga makanan yang kita tunggu-tunggu. Ada Pizza, (ya pizza murahan, paling 2 le-an, hoho..) sama roti keju plus madu. lumayan lah buat ganjel perut.

ok..ok lanjut lagi gan...!

Tiba2 dari pembicaraan Nazi dan Yahudi, ngalur ngedul sampe ke Cina.
(sebelum tertipu, ada kata2 yang ane tambah biar rada seru..gpp kan..:d)

Kata ane sok tahu, "jadi china itu memang memiliki sejarah kebudayaan yang cukup kuat, dan itu sangat berpengaruh pada watak serta mental mereka dimasa kini bahkan yang akan datang." sok mataf kan?? :d

"negara mereka menganut sisitem ekonomi liberal" lanjut gw masih St12. "Negaranya memberikan kebebasan serta motivasi kepada setiap warganya (swasta) untuk memproduksi apapun, makanya, walaupun warganya terbanyak, tapi tingkat serta regulasi ekonominya begitu pesat. walaupun prinsip produksi mereka, "mendahulukan kuantitas daripada kwalitas"

"ooo iya heuhh bener" kata teman disebelahku. (padahal ane st12..heheh)
"murah, tapi cepet rusak" kata dia menambahkan.

"ya..contonya aja Di SUkabumi, banyak sekali orang Cina yang menguasi pasar serta perdagangan. Tapi sekarangmah citra orang cina udah agak menurun, kepercayaan serta daya beli masyarakat kepada pedagang Cina sudah mulai berkurang, ayenamah masyarakat Indonesia sudah mulai berpikir, artinya sekarang masyarakat kita sudah pada pinter" kata teman yang satu lagi ikut menaggapi.

"memang sudah saatnya kita memanfaatkan para pedagang lokal, gerakan Cinta produk dalam negri mestinya harus lebih ditekankan. ya..walaupun harga lokal masih lebih mahal dibanding produk mereka" ujarku mendukung.

Tapi menurutku fakta dilapangan umumnya tidak demikian, pedagang china masih menguasi pasaran, bukan hanya soal produksi, demikian juga perdagangan. Bahkan mereka mampu menguasai di berbagai bidang dan jasa. Contohnya propherti, bank, kontaraktor dsb.

Kadang pemerintahpun merasa sangat kesulitan. disatu pihak masyarakat dianjurkan untuk mencintai produk dalam negri, tapi dipihak lain, produk Cina jauh lebih murah dibanding produk kita sendiri. Apalagi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, ukuran harga masih menjadi patokan utama.

Penguasaan warga tionghoa dalam hal keduniaan, sebetulnya tidak terjadi secara kebetulan, tapi semuanya tumbuh dari sebuah keyakinan, tuntutan kehidupan serta Pengalaman sejarah. Unsur-usnsur tersebut itulah yang menjadi elemen kolektif sehingga mampu membangun watak serta kepribadian mereka dalam menguasai usaha dan materi.

"Orang Cina sangat terkenal dengan keuletan" kata tyeman ane ikut menanggapi percakapan kita. "benar, 25 perak aja dikejar-kejar" kata Ucen.

Jangan lupa, selain ulet mereka juga sangat terlatih untuk hidup mandiri dan sederhana. Bahakn ketika mereka telah menjadi seorang pengusaha suksespun, mereka tidak serta merta mudah berfoya-foya.

Dulu Pak kyai pernah bercerita. saya punya langganan toko cina. Tokonya cukup besar dan terkenal, tapi setelah bapak perhatikan, ternyata pemiliknya begitu sangat sederhana,setiap hari pemiliknya cukup menggunakan speda onta dari rumah menuju tokonya. ungkap beliau.

Memang benar, banyak cerita tentang bagaimana keuletan dan kesederhanan warga Cina dalam prilaku kehidupanya.

ketika SD, seorang guru pernah bercerita. Orang Cina itu kalo tidur sepatunya aja sengaja engga dilepas, alasanya, agar pertumbuhan kaki engga cepat membesar, dan secara otomatis sepatu mereka tidak cepat ganti ukuran. Hemat!!!. uajar guru ane menasihati.

fenomena orang Tionghoa yang banyak menguasai sektor perdagangan dan perusahaan, khususnya di Indonesia layak kita carikan solusinya. Dimulai dari bagaiamana kita sebagai pribumi agar dapat meniru hal-hal pofitis rahasia keseuksesan mereka, membangun kesadaran agar masyarakat lebih cinta pada produk dalam negri, membentuk mental serta para pengusaha lokal agar mampu bertahan dan bersaing dengan para importir luar, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang seharusnya lebih mengutamakan para pengusaha lokal, salah satunya dengan membatasi perijinan barang imporan.

Dalam catatan Sejarah, memang katanya orang Cina sudah sangat lihai dalam hal berwira usaha. Ketika Para agresor, datang ke Indoensia, orang-orang Tionghoa banyak dimanfaatkan oleh mereka (portugis, belanda dsb) untuk membantu mereka dalam sektor perdagangan di Indonesia. Alasanya, orang-orang Tionghoa lebih lihai dari orang pribumu sendiri. Bahkan mereka lebih tau dan sangat menguasai medan serta jaringan perdagangan di tanah air kita.

Bahkan, privilese2 warga tionghoa di Indonesia tak berhenti sampai disana, tapi berlanjut sampai masa kemerdekaan, orde baru, bahkan sampai saat ini. Dari sekian pengusaha besar dan milioner di Indonesia, barangkali para pengusaha lokal masih bisa dihitung jari.

Tionghoa di masa Orde, Suharto......udah duluw,....ntar lanjut lagi kalo ada muddd
atau yang mau ngelanjutin jga boleh heuehu.....
Read more...

KCB Vs AAC


Setelah sekian lama dalam penantian, akhirnya bisa jua nonton KCB. dulu ketika masih baca novelnya, rasanya ga mau beranjak sebelum novelnya tuntas abis dibaca sampai kar-akarnya (emang jenggot ada akarnya...hehhe). dari bangun tidur ampe tahlil dam karena waktu tu lagi semangat2nya ngajuin beasiswa, tuh novel ga pernah absen di tas gendong ku (tak gendong kemana2,,weeew). selain seru, sedih, bangkitin spirit, lucu, gatal-gatal (lhoo ko.??,) doi juga dikejar deadline, solanya tuh Novel hasil pinjeman, yah mau gak mau harus cepet2 dong, tapi emang gak rugi sii..tuh novel udah bikin aa nafsu makan... kalau novel tersebut jadi bestseller, emang sekudunya, menurutku.....

Gak lama kemudian, ada kabar kalu novel tu mau di flmkan juga kayak AAC, jelas doi seneng banget, nambah lagi kebanggaan ku sebagai seorang mahasisiwa Azhar, ya...walaupun doi ga sekeren Azam ga prepeeek lah istilahnya, paling engga mama doi bisa liat aktivitas anandanya bercermin dari Azam dalam KCB. wuihhh...kerenkan...!! heheh...trus mudah2an perfileman Indonesia dapet angin segarnya, fositivnya-lah.. karena meneurutku selama ini perfilman kita udah sangat menyedihkan, jauh dari etika dan pendidikan (dan ini yang membuat ku ingin jadi sutradara....) dulu..^_^

Ok lanjut lagi gan... Setelah semakin gencar( kabarnya maksudnya), akhirnya para kru end kang Abik datang juga ke Mesir sebagaiamana dulu sebelum AAC difilmkan, bahkan waktu tu Kang Abik sempet jadi pembicara dalam salah satu seminar yang diadakan masisir, and juga sempet panitia mengadakan audisi buat para masisir yang pengen jadi pemeran azam, sayang doi lagi kerja di mt'am, tapi gpp ngasih kesempatan buat artis muda dulu lah...haiks.....

nah yang bikin kita bangga lagi, KCB ni berencana mengexplor abiz suasana Mesirnya secara masif sesuai dengan isi Novelnya tu. yupzzz...ide bagus, karena terang aja dulu doi kecewa ama AAC, masa ceritanya di Mesir shotingnyaa di jawa tengah blurrr..?!!!, ya..superemn makan kangkung dong (ya ga nyambung....).....nah mudah2an dengan KCB nih setidaknya bisa membalas kekecewaan AAC, apalagi sutradaranya katanya lebih islami (maaf..maaf ya bang Hanung , emang kenyataanya begitu si...hehe) harapku saat itu.

Eh agn agan bersambung dulu ya....doi laper nih mo maak mie dulu..bay by
Read more...

Tuesday, February 23, 2010

Persahabatan Dalam Bagian


Indahnya persahabatan adalah saat kita saling membutuhkan, di saat kita dibuthkan dan memberi pertolongan dengan tulus dan ikhlas. Betapa mudah seseorang mendapatkan seorang teman, karena jalinan persahabatan dapat saja terjalin karena adanya tali persaudaraan, ada juga karena kita dikenalkan, atau karena secra tiba-tiba kenalan dalam bis, di antrean atau dimanapun kita berada.

Ada banyak orang menjalin persahabatan, ada yang tulus ikhlas, ada yang karena sudah terlanjur saudara, ada yang karena uang, ada yang karena punya kebutuhan dan lainya.


Persahabatan yang dijalin karena ketulusan tentunya akan membuahkan saling memahami, yang sebnarnya sikap inilah yang dapat mengawetkan tali persahabatan. Jika kita termasuk orang yang mudah mendapatkan seorang sahabat maka tugas kita selanjutnya adalah bagaimana kita menjaga tali persahabatan hingga dapat bertahan selamanya bahkan bila perlu sampai usia menutup mata.

Menemukan sahabat, bagaikan menemukan perahu layar. Bila pandai menjaganya, denganya kita akan mengarungi lautan samudra hingga sampai ke pulau impian yang kita inginkan, berlarian di taman rumput di tepian pantai dengan hisan taman karang dan ombak-ombak yang kecil. Namun jika tak pandai, sebaliknya kita akan terhempas badai samudra lalu berebutan arah tujuan atau tenggelam bersamanya sebelum sampai ke pulau tujuan.

Ada dua tali persahabatan yang kita kenal, ada yang halal dan adapula yang haram. Meski mungkin kedua-duanya saling akrab, saling berduka cita berbagi cerita tapi tentunya nilainya berbeda. Cinta sejati adalah persahabatan yang dilandasi karena cinta, ketulusan hati karena Allah semata. Bertemu dan berpisah seklipun karena Allah semata.

Berbagai cara orang menemukan seorang sahabat, dengan tutur kata tentu lebih dominan, dengan isyaratpun tak sedikit tentunya. Dari sekian sahabat yang kita dapati atau yang kita kenali tentu tak semuanya akan menjadi sahabat sejati, karena tak semuanya dapat memahami, tak semuanya pula dapat saling membantu dan membutuhkan.

Berbagai cara orang memperthankan persahabatan, saling memperhatikanya setiap saat, membantu kawan saat membutuhkan bantuan atau tidak membutuhkan, menginggatkanya saat sahabat lupa, membawakannya oleh-oleh, atau sekedar menjadi pendengar sejati saat dia sedang berkeluh kesah, mengantar dia pergi, dan mungkin banyak lagi. Walaupun yang paling baik adalah ketika kita saling mengajak, menemukan solusi dan salang menghantarkan ke jalan yang baik, dan diridhai Allah SWT.

Seringkali kita diingatkan bahwa pentingnya persahabatan bukanlah saat ini akan tetapi pada saat yang akan datang, yaitu suatu masa yang tak terduga-duga. Saat kita saling dewasa, saat kita saling tua, atau bahkan saat kita saling masuk surga. karena mustahil kita akan saling terbuka, saling membantu kelak, jika saat ini kita malah saling melukai.

Berbagai hal yang harus kita hindari di saat menjalin persahabatan, diantaranya:
1. Mengingkari janji
2. Berbohong
3. Mencemooh dan meghina
4. Rasis
5. Terlalu banyak meminta dan sedikit membantu
6. Perhitungan
7. Mengungkit-ngungkit kesalahan
8. Mengadu domba
9. Berlaku bakhil, sombong, dengki kikir serta segala sifat yang dapat menghancurkan tali persahabatan.



Barbagi tips untuk mendaptkan seorang sahabat. Baik di majalah, berita atau guru-guru di sekolahan sekalipun, walupun tipsnya hampir sama tapi kadang ada kategori nilai yang tertinggal, yaitu betapa besarnya nilai sebuah persahabatan serta pengaruhnya terhadap nilai tataran sosial budaya, bahkan agama sekalipun.

Diatara tanda seseorang merasa care dengan sahabatnya adalah ketika dia mulai terbuka dengan kita, atau juga saat dia mulai berani meminta bantuan dan sebaliknya membantu kita.

Terkadang kita merasa direpotkan disaat teman meminta bantuan, padahal itu adalah tanda bahwa dia merasa terbuka, lalu berani dengan kita, tentu pada garis-garis kita saling memahami, karena adakalanya seorang teman baru yang langsung bra bri bro minta ini minta ono.

Sebagaibana yang banyak kita ketahui ada beberapa tipe persahabatan;

pertama persahabatan seperti racun: sebagaiamana racun, persahabatan seperti ini akan lebih banyak mengancam daripada menghasiikan mafaat.

kedua seperti obat: tipe sahabat seperti ini seolah dibutuhkan hanya saat kita terkena penyakit saja atau tatkala sakit saja, selebihnya dia pahit sebagaimana pahitnya pil obat .

Ketiga persahabatan sebagaiamana makanan dan minuman: ia dibutuhkan setiap saat, dia bagaikan air dipegunungan disaat kita sedang dahaga kehausan atau bagaikan roti penawar rasa lapar.

Sekian semoga bermanfaat. ;)
Read more...

Saturday, February 20, 2010

Klasifikasi Lafadz; Dilalah Wadih wa Ghairu Wadih


Prolog

Syariat Islam sebagai syariat Nabi dan Rasul yang terakhir; Muhammad Saw—, memiliki kesempurnaan sistem baik ditinjau dari aspek teks (al-Qur'an dan al-Hadist) maupun dalam implementasinya dalam bentuk konteks sosial. Diantara ciri khas sayariat Islam menurut DR. KH. Didin Hafidhuddin, M.Sc., dalam bukunya Islam Aplikatif, antara lain menyebutkan; kompherensif dan universal. Kompherensif beraarti syariat Islam mecakup seluruh aspek kehidupan manusia, baik ritual (ibadah Mahdloh) maupun sosial (muamalah temasuk sosio kultural, ekonomi dan civil scoeity ), serta Universal menyangkut segala aspek kehidupan demikian penerapanaya tanpa batas waktu dan tempat.

Namun menurut salah satu tokoh kiri Islam yang layak kita kritisi dalam salah satu seminarnya mengemukakan; bahwa dalam persoalan muamalah tidak ada ketentuan yang pasti di mana Allah menentukan “otoritas kebijakan yang permanen” terhadap bentuk hukum yang wajib dipraktikkan umat Islam. Yang ada hanyalah nilai-nilai pokok universal dalam Islam sebagaimana juga ada dalam semua agama. Karena itu jika ingin menetapkan suatu hukum dalam soal muamalah di suatu masyarakat harus melalui jalan ijtihad tanpa perlu terikat pada sistem hukum yang baku dalam Alquran maupun Sunnah, sebab dalam hal ini tidak ada “Hukum Tuhan” dalam arti ma'na lafadznya secara mutlak dan permanen.



Dengan demikian diperlukan suatu instrumen lain untuk menjembataninya, yaitu suatu perangkat yang menyesuaikan antara ma'na teks dengan konteks yang selalu baru. Dalam hal inil Ushul Fiqhlah yang menjembatani anatara ketetapan-ketetapan al-Qur'an dan as-Sunnah dalam konteks Nash yang permanen dan prisipil dengan konteks sosial masyarakat yang selalu berubah-ubah dan bersipat Variable. Untuk itu dalam pembahasan Syariah muamalah kita kenal istilah Tsawabit wa Muthagoyirat (prinsip dan Variable). Dalam bidang ekonomi, misalanya yang merupakan prinsip adalah larangan riba, pengambilan keuntungan, pengenaan Zakat, dll. Sedangkan variable adalah instrumen untuk melaksanakan prinsip tersebut, misalanya murabahah, mudharabah dan lain-lain yang sesuai dengan perkembangan sosio kultural dan tuntutan zaman.

Walaupun pada dasarnya Ushul Fiqih merupakan kodivikasi kaidah-kaidah universal yang membantu untuk mengintisarikan pokok-pokok Syari'ah furuiyah, yang terambil dari dalil-dali nash secara ekplisit dan terperinci, namun dari sinilah sejatinya ilmu Fiqih terlahir sebagi produk instant dari Usuhul Fiqh.

Maka bentuk kekhawatiran para liberalis terhadap syariah, dimana mereka menuduh syariat sebagai perangkat Islam yang memiliki kejumudan tanpa membangun wacana kesepadanan antara teks dengan kontks rill sosial masyarakat yang terus maju dan berubah-ubah adalah tidak benar adanya. Begitu pula kekhawatiran mereka terhadap Bibliolatry meminjam istilah T.H. Huxley yang dikutip Ulil Absahar Abdala dalam sebuah tulisananuya Menghindari Bibliotary, tentang Pentingnya Menyegarkan kembali pemahaman Islam, yaitu sebuah kecenderungan umat terhadap Holy suprame dalam hal ini (al-Qur'an) dan al-Hadist, sebagai bentuk "penyembahan teks"—menempatkan teks dalam kedudukan yang begitu"suprame", begitu tinggi, sehingga mengalahkan pengalaman rill kehidupan manusia yang multi tradisi dan sosio kultural adalah pernyataan yang sangat tidak logis dan tidak berdasar.

Demikian dengan Fiqih sebagai instrumen syari'ah, dalam perkembanganya telah menjadi sebuah disiplin ilmu yang berisikan kodipikasi-kodipikasi syar'iah melalui berbagai kajian serta hasil ijtihad para ulama yang tentunya memiliki cakupan sangat luas, yaitu mencakup segala ilmu , termasuk di dalamnya akhlak, ibadah dan muamalah.

Diantara beberapa bahasan Ushulul Fiqh, Klasifikasi lafadz merupakan salah satu pembahsan yang cukup urgen, bahkan dapat disebut sebgai intisari bahasan. Untuk itu perlu kiranya kita mengkaji lebih dalam lagi terkhusus dalam hal ini, karena pembahasanya sangat berkaitan erat dengan Istinbhatil Ahkam.

Setelah sedikit berapologi dan agar tidak keluar dari esensi bahasan, dalam pembahsaan kali ini kita masih berkutat pada Klasifikasi Lafadz, Jika kemarin menurut pemakaianya maka kali ini pengkalisifkasian menurut dilalahnya. Untuk lebih lanjut mari kita simak penguraian di bawah ini dimana penulis yakin bahwa masih banyak kekurangan dan kesalahan yang harus dikritisi, mudah-mudahan tidak merasa puas dengan makalah ini dan itu yang sejatinya penulis harapkan.


1. Klasifikasi Dilalah Wadih

Ada persamaan kategori pengkalsisfikasian Wadihu Dilalah menurut Wahbah Zuhaili dalam kitabnya Ushulul fiqh al-Islami dengan Ilmu uhulul Fiqah karya Abdul wahab Khalaf, keduanya mengklasifikasikan Dilalah wadih kepada empat bagian; 1. Dzhahir 2. Nash 3. Mufassar 4. Muhkam. Penulis menyimpulkan bahwa keduanya menganut paham Imam Hanafi dalam mengklsifikasikan dilalah menurut Qoidah Ushulul fiqh. Karena dalam kitab Nuhayat ass-Sul karya imam Jamaluddin Abdurrahim al-Isnawi yang bermadzhab Syafi'i, pengkalsifikasikan lafadz dalam kitab tersebut sangat dipengaruhi dengan kaidah ilmu manthiq.


Sebelum memebahas Dilalalah berikut kalsifikasinya secara lebih jauh, terlebih dahulu kita akan membahas Takwil sebagai perangkat penting sebelum membahas dan mentafsirkan bentuk lafadz-lafadz dalam ranah dilalah, walaupun penjabaranya hanya bersipat global hal tersebut agar tidak mengurangi esensi penjabaran makalah tentang klasifikasi lafadz.

Takwil

Definisi Takwil secara etimologi: Tafsir. Sedangkan menurut terminologi para ahli ushul mengartikan takwil; sebagai pembebasan arti lafadz dari ma'na aslinya ke ma'na yang lain berdasarkan dalil yang kontradiksi dengan lafadz tersbut, maka seyognyanya pentakwilan (lafadz) harus di barengi dengan suatu dalil yang berlawanan denganya—demikian karena Al aslu adamuhu, dan konsensi wajib terletak pada kejelasan lafazdnya tersbebut.
Contoh pentakwilan: Taqyidul muthlaq (pengikatan hal yang muthlak), Takhsisul Amm (pengkhususan hal yang bersifat global), Sharafahu ann umumahu (pebebasan mana yang global)

Al-majaal Attakwil
Bentuk pentakwilan memasuki dua area dalam nash;
pertama: Nash yang berisikan hukum pentaklifan, dikarenakan keraguan yang tumbuh dalam benak seorang mujtahid dalam mentakwilkan lafadz dalam memahami ma'na bahasanya untuk selanjutnya menjadikanya sebuah kesimpulan hukum syara' dari nash tersebut.
Kedua: Nash-nash permanent yang berisikan keyakinan dan I'tikad, sebagimana ayat-ayat yang membahas sifat-sifat Allah, Ahrufulmiqhoto'ah dll.


Syarat-syarat Takwil
Pertama; suatu lafadz (yang memiliki kontardiksi ma'na) sehingga memrlukan dan menerima pentakwilan, sebagaiamana dilalah Dzohir dan Nash.
Kedua: Sebgaimana lafad muthlaq yang memerlukan pentakyidan/ikatan atau pemgkhusussan lafadz Amm.

Penjabaran takwil dicukupkan demikian walaupun sejatinya masih cukup panjang, masih banyak pembagian-pembagian lain yang belum kami cantumkan, hal tersebut agar tidak mengurangi esensi penjabaran makalah tentang perangkat-perangkat lafadz.

Klasifikasi Lafadz

Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat anatar ulama dalam meng-klasisfikasikan lafadz, diantara yang penulis ketahui; Syafi'iah dan Hanafiah , secara garis besar perbedaan mencolok diantara keduanya, yaitu dalam methode pengklasifikasian, jika Hanafiah cenderung sistematis dan sedikit mudah untuk dipahami, sedangkan Syafi'iah cenderung klasik dan manthiqi sehingga sedikit sulit untuk dipahami.
Namun penulis disini hanya akan mengklasifikasikan lafadz terbatas pada methode Hanafiah, hal tersebut karena mengikuti silabus kajian yang mengikuti methode Hanafiah. diantaranya terdapat dalam Ushulul fiqh al-Islami karya Wahbah Zuhaili serta Al-Imu Ushulul Fiqh karya Abdullah bin Khalaf.

Terdapat persamaan kategori pengkalsisfikasian Wadih Dilalah menurut Wahbah Zuhaili dalam bukunya Ushulul fiqh al-Islami dengan Ilmu Ushulul Fiqah karya Abdul Wahab Khalaf. keduanya mengklasifikasikan Dilalah wadih kepada empat bagian; 1. Dzhahir 2. Nash 3. Mufassar dan 4. Muhkam. Sehingga ada kemungkinan keduanya menganut paham Imam Hanafi dalam mengambil Qoidah Ushulul fiqh.

I. Dzohir

Dzohir secara etimologi; bearti jelas. Sedangkan menurut terminologinya yaitu; setiap lafadz atau kalam yang memiliki ma'na eksplisit terhadap obyek pembaca melalui konotasi bahasanya tanpa harus menukilkan ma'na lafadz terhadap hal-hal skunder diluar maksud lafadz tersebut, baik lafdz tersebut mengandung ma'na yang luas ataupun tidak. Sebagaimana Firman Allah {Ya Ayyuhannasuttaqu rabbakum} atau ayat lainya { Azani wazzaniatu fajlidu kullu wahiddin minhuma} kedua Ayat diatas memiliki Dilalah yang cukup jelas sehingga tidak perlu mentakwilkannya secara lebih ekplisit lagi.
ketika maksud suatu ayat dapat dipahami tanpa memerlukan penukilan terhadap ma'na lainya, akan tetapi bukan merupakan maksud asli dari konotasi bahasanya, maka hal itu dapat mengi'tibarkan kalam tersebut keapada--maksud kalam tersebut secara eksplisit
Contoh: {Fankihu maa thooba lakum minanannisa mastna wa stulasa wu ruba'a} ayat tersebut secara jelas menunjukan ke legalan berpoligami dalam memiliki istri, tetapi ma'nanya tidak menunjukan kepada arti luas dari ayat tersebut karena maksud utama dari konotasi ayat tersebut adalah meminimalisir jumlah istri dari empat atau satu saja sebagaimana diatas.

Hukum Dzohir
Hukum Dzohir wajib mengamalkan petunjuknya secara yakin dan pasti, baik lapadz tersebut bersifat umum ataupun khusus terkecuali apabila terdapat dalil lain yang mengeliminasi ke udhulan-ya, baik mengarah kepada maksud lain atau adanya dalil lain yang menunjukan pendiskualipikasian lafadz yang dimaksud, sebagaimana lafadz muthlaq yang memerlukan taqyid. Contohnya pada ayat tentang kelegalan berpoligami yang masih muthlaq {Wa ahallalohu maa wa'roa dzalikum}, ayat tersebut di taqyid dengan ayat lain {Mastna wa tsulasa wa rubba'a}, dan dalam suatu hadits tentang pelarangan seorang gadis hidup bersama pamanya.



II. Nash

Nash menurut definisi para ahli ushul: setiap lafadz yang menunjukan kepada ma'na atau maksud asli lafadz secara jelas, melalui konotasi lafadz tersebut dengan menggunakan perangkat takwil, takhsis dan menerima nasakh (khusus di masa turunya wahyu).
Contohnya: {wa ahalallohu al-Bai'a wa harroma arriba} disatu pihak ayat tersebut menunjukan pengingkaran "misal" dan di pihak lain menerangkan perbedaan antara; jual beli dengan riba dari segi halal dan haramnya.

Maksud ayat tesebut jelas yaitu pelegalan jual beli dan pelarangan riba, sebagai sanggahan terhadap statemen orang Yahudi terhadap riba yang terdapat pada ayat sebelumnya { Innamal Bai'a mistlu ar-riba}

Hukum Nash
Nash wajib hukumnya, sebagaimanan hukum Dzohir dengan pertimbangan takwil dan nasakh, meskipun pentakwilan tidak di sandarkan kepada suatu dalil atau pentakwilanya berada jauh dari ma'na dzohirnya, kedudukan nash bersifat tetap hukumnya Qat'i dan yakin.

III. Mufassar

Definisi Mufassar yaitu: setiap lafadz yang menunjukan kepada ma'na serta maksud lafadznya secara dzohir tanpa menyertakan perangkat takwil dan takhsis akan tetapi menerima nasakh (terbatsa pada masa turunya wahyu berlangsung).
Dalam menerangkan suatu lafadz, Mufasssar terbagi dua bagaian.
Pertama: Bayanu at-Taqrir.
Yaitu suatu keterangan dengan perfikasi takhsisulafdzi, majaz dan takwil apabila berbentuk umum dan mengubahnya menjadi lafadz muakkad.
Contohnya: {Tholaki nafsiki marrotan wahidatan} lafadz (wahidatan) dalam hadits tersebut menunjukan kemungkinan pentalaqan lebih dari satu kali, sehingga perlu keterangan lain untuk menafsirkanya.
kedua: Bayanu at-Tafsir.
Yaitu suatu keterangan dengan menafsirkan ma'nanya yang tersembunyi meliputi lafadz tersebut serta menjelaskanya sehingga lebih eksplisit.
Contohnya: {Fasajjada al-Malaikat kulluhum ajmaun}" kata mlaikat disini bersifat umum sehingga memerlukan pengkhususan-- karena perkataan yang didahului alif lam akan bersifat jama'(umum). akan tetapi kalimat malaikat disini telah bersifat khusus (dengan maksud) sebagaian malaikat tidak melaksanakan sujud. kalimat (kulluhum) disini menunjukan pembebasan taksis, hal ini menunjukan bayan taqrir. sedangkan kalimat ( ajmaun) menghilangkan ihtimal pelaksanaan sujud yang berbeda-beda; hal ini disebut dengan bayan tafsir, menafsirkan kaifiyah sujud, serta membatasi ihtimal perbdaan takwil.

Hukum Mufassar
Kedudukan hukumnya bersifat wajib qoth'i, tanpa memerlukan ihtimal takwil atau takhsis serta nasakh di masa nabi, dengan syarat apabila hukumnya tersebut bersifat Juz'i; karena masa pemberlakuan nasakh (penghapusan ma'na nash) terbatas pada saat turunnya wahyu berlangsung, adapun setelah wafatnya Nabi Muhammmad. Saw dan terputusnya wahyu, kedudukan hukum syara' dalam al-Qur'an dan Sunnah menjadi ketetapan hukum yang permanen tanpa menerima nasakh dan Ibthol

IV. Muhkam

Muhkam menurut terminologi para ahli Ushul; Yaitu lafadz yang menunjukan kepada ma'nanya melalui konotasi lafadz tersebut secara jelas dan terperinci tanpa menggunakan takwil, takshsis dan nasakh. Hal tersebut karena lafadz Mufassar menyangkut permasalahan asasi, seperti halnya Ushulul Iman, Ushulul fadhail dan Qaidah akhlakiah.
Dalam kitab Ushulul Fiqh Alislami, Wahbah Zuhuaili mengkalsisifikasikan Muhkam kepada dua tema;
Pertama: Almuhkam Lidzatihi, yaitu suatu konsensus hukum yang terambil dari dzat nash tersebut. Sebagaimana Firman Allah {Innalaha Bii kulli syain Alim} maka sifat alim bagi Allah bersifat qadim azali yang artinya berdiri sendiri dengan dzatnya ta'ala, maka pembahasannya ini tidak menerima Nasakh, maupun takwil karena pembahsanya yang bersifat permanen dan tetap mengenai sifat Uluhiyah
Kedua: Al-muhkam Li Ghoirihi, yaitu lafadz yang terhukumi disebabkan perkara lain diluar nash, yaitu setiap Nash yang terputus penasakhan-nya disebabkan terputusnya (masa penurunan) wahyu kerana wafatnya Nabi Saw., Maka hukum tersbut (dapat) datang dari perkara lain diluar Nash, hal tersebut meliputi berbagi macam dilalah wadih yang empat; Dzohir, Nash, Mufassar, dan Al-muhkam.

Hukum Muhkam:
Hukumnya wajib Qoth'i tanpa ada keraguan lagi, dikarenakan tidak ada pertimbangan lain untuk mem'anainya ke arti yang lain serta tidak pula menerima nasakh dan pembatalan nash secara muthlaq, baik dimasa turunya wahyu maupun setelah wafatnya Rasul Saw.

Kesimpulan Dilalah Wadih
Setipa Dilalah (Dhohir, Nash, Mufassar dan Muhkam), maka kedudukanya wajib menjadi sebuah supremasi hukum secara qath'i dan yakin, aka tetapi ke-empatnya memiliki kemungkinan pertimbangan, yaitu; ketika terjadi pertimbangan ma'na terhadap dalil-dalil yang kontradiksi.
Adapun alternatif pengambilan hukum terhadap dilalah yang memang mengalami kontradisksi, maka setidaknya kita harus memilih dilalah mana yang paling kuat dari ke-empat macam lafadz tersebut Karena ke-empatnya memiliki tingkatan hukum serta kekutan ma'na yang berbeda-beda. Adapun tingkatan hukum yang peling kuat dan jelas menurut tingkatanya adalah: Almuhkam, Mufassar, Nash dan terakhir Dzohir.
Contoh kontradiksi; antara dzohir dan nash;
Dalam sebuah Ayat {Wa ahllallohu maa waraa'a dzlikum}, dengan ayat lain: {Fankihuu maa Thoaba lakum min annisa'i mastna wa tsulasa wa rubaa'a}. Kedua ayat tersebut sama-sama menunjukan kelegalan berpoligami, akan tetapi ayat pertama berbentuk dzohir, tanpa ada batasan jumlah (red;istri), sedang pada ayat ke-dua berbentuk nash, karena menunjukan batas jumlah istri dalam ber-poligami (satu sampai empat istri), serta larangan melebihkannya. Secara langsung kedua dilalah ini menunjukan sebauh kontradiksi ma'na. Adapun caranya dengan mendahulukan nash, dengan alasan nash lebih kuat dibandingkan dzohir dalam pengamalan dan pengambilan istinbath hukumnya, karena nash bersifat global mencakup kedua dilalah dengan mempertimbangangkan (lafadz dzohir) sebagai tamtsil terhadap pertimbangan lain yang sepakat dengan nash. Hal ini sesui dengan kaidah umum ushul fiqh; Al-aqwa yuqoddimu ala adh'ap i'nda Att-aarud.

Untuk menghemat penulisan, sekian contoh yang penulis sertakan, untuk contoh lebih lanjut kita akan mencoba membahasnya pada saat diskkusi nanti Insya Allah. Selanjutnya kita akan memebahas judul berikutnya.

Klasifikasi Dilalah Ghairu Wadih

Para ahli ushul mendefinisikan Dilalah Ghairu Wadih; Setiap Dalil yang tidak menunjukan ma'na asli lafadz tersebut melalui Sighatu Lafadzi-nya, akan tetapi ma'nanya tersifati (dapat diketahi) melalui perkara lain diluar konotasi lafadznya. Kalasisfikasi Dilalah Ghairu Wadih terbagi kepada empat bagian: Khafii, Musykil, Mujmal dan Mutasyabih. Ke-empat bagian ini masing-masing memiliki kedudukan serta drajat yang berbeda sesuai dengan kategorinya.

Pandangan Umum.
Kategori peng-klasifikasian tingkatan dilalah Ghairu Wadih berdasarkan kesamaran/ketersembunyian lafadz serta Ma'na yang terkandung di dalamnya. Apabila kesamaranya terdapat pada ma'nanya maka disebut: Khafa. Sedangkan apabila kesamaranya terdapat pada Lafadz terbagi kepada tiga bagian: pertama, apabila maksud atau ma'na dari lafadz tersebut masih dapat diketahui melalui akal disebut: Musykil, kedua, bila diketahuinya dengan dalil Naqli dan tidak dengan akal disebut: Mujmal, ketiga, apabila maksud lafad yang tersembunyi tidak bisa di ketahui dengan akal maupun dalil naqli disebut; Mutasyabih. Untuk emnegtahui dalil mutaysabih lebih lanjut akan penulis uraikan dibawah ini.

I. Khafa

Menurut terminologi para Ahli Ushul: Khafa adalah Suatu lafadz yang menunjukan ma'nanya secara jelas, akan tetapi terdapat beberapa hal yang samar pada sebagian tingkatan ma'nanya yang lain, sehingga membutuhkan penela'ahan dan pengkajian yang mendalam untuk mengetahuinya.
Contohnya: Lafadz {Assariqu} dalam ayat {wassariqu wa sarriqotu faktau' ayidiyahuma} , definisi Assariqu (mencuri) sangat jelas: yaitu merampas hak milik orang lain berupa harta Haraz dengan jalan sembunyi-sembunyi.
Pengambilan hukum menjadi samar bila kata sariqah disandingkan dengan kejahatan yang sejenis akan tetapi terdapat perbedaan dalam cara mengerjakanya, contohnya; Atharar dan Annabasy . Walupun ma'nanya hampir sama ( kegiatan mencuri), namun ada perbedaan cara serta obyek yang diambil, hal inilah yang menjadikan keraguan dan perselisihan pendapat para ulama apakah ke-tiganya dikategorikan hukum sraiqoh (potong tangan), ataukah tidak, dalam hal ini perlu pengkajian dalam menentukan hukumnya.
Diantaranya Imam Syafi'i dan Imam Abu Yusuf sepakat menghukumi ketiganya dengan hukum sariqah, akan tetapi Imam Hanafi memiliki pendapat lain dalam menghukumi Annabasy, menurutnya kasus Annabasy ini tidak bisa dikategorikan dengan hukum sariqoh, alasanya; karena (harta) yang terdapat di pekuburan tidak termasuk harta yang dipelihara/dijaga, dan kafan umumnya termasuk harta yang sifatnya tidak diingini banyak orang oleh karena itu, penamaanya pun berbeda (tidak sriqu kaffan), maka hukum Annabasy, masih menurut Hanafi tidaklah sama dengan hukum sariqoh akan tetapi dihukumi dengan ta'jir. Berbeda halnya dengan Imam Syafi'i dan Imam Yusuf yang mengkategorikanya dengan hukum Sariqah (dipotong tanganya).

Hukum Khafi:
Wajib mengadakan usaha untuk mengetahui pengertianya serta ma'nanya, apabila terdapat lafadz yang justru lebih jelas (Atharar: perampokan), maka hukumnya di kembalikan ke asal lafadz aslinya (sariqoh: pencurian)

II. Musykil

Menurut para ahli Ushul, Musykil adalah: setiap lafad yang tersembunyi ma'nanya disebabkan bentuk asal lafadznya tersebut, oleh karenanya tidaklah mudah mengetahui ma'nanya kecuali dengan pengkajian dan perbandingan ma'na/maksud dengan perangkat lain secara seksama.
Contohnya: {wal muthalaqatu Yatarabbasna bi anfusihinna tsalasatu quruuin} , lafadz Quru' dari ayat diatas menjadi batasan waktu Iddah, sedangkan dari segi bahasanya memiliki dua ma'na; Suci atau Haidl. Maka terdapat perselisihan pendapat. Diantaraya Imam Syafii dan Imam Maliki mengartikan Lafadz Quru'sebagi Thaharah. sedangkan menurut Imam Hanafi Ma'na Quru' berarti Hadil. walupun Wahbah Zuhaili dlam kitabya merajihkan pendapat pertama. pada dasarnya keduanya memiliki alasan yang kuat namun penulis disini tidak bermaksud mencantumkanya semoga dapat ditemukan dalam diskusi nanti.

Hykum Musykil
Wajib mengkaji serta menela'ah lafadz musykil untuk mengetahui maksud serta ma'na lafdz tersebut serta mengamalkanya, sesuai dengan perbandingan keterangan serta dalil-dalil yang menyertainya.

III. Mujmal

Para ahli ushul mendefinisikan Mujmal; setiap lafadz dimana sighohnya tidak menunjukan kepada ma'na asli lafadz tersebut tanpa ada pembanding atau konteks yang menjelaskannya, sehingga dengan kata lain sebab ke abstrakan ma'nanya dikarenakan lafadz bukan maksudnya.


Sebab-sebab dilalah Mujmal;

Pertama: al-Isytirak ma'a adamu al qorinah, kedua: gharabtul isti'mal ketiga: Annaqlu minal ma'na allughowi ilaa ma'na isthilahi.

Hukum Mujmal:
Penetapan ijtihad ma'na dilalah Mujmal terbatas hanya pada masa turunya wahyu sebab ma'nanya yang sangat mubham serta tidak ada sighah lafadz atau dalil lain sebagai pembanding untuk menjelaskan ma'nanaya, maka penafsiran ma'nanya langsung dari Nabi Saw., Tanpa memakai perangkat ijtihad.

IV. Mutasyabih

Definisi Mutasyabih menurut para ahli ushul yaitu: suatu lafadz yang sama sekali tidak menunjukan arti lafdz tersbut dengan sendirinya, tanpa ada Qrinah-qorinah lain yang membantu menjelaskanya, akan tetapi mayakininya secara syara' tanpa menafsirkanya lebih lanjut.
Sebgai pengetahuan bahwa lafadz Mutasyabih ini tidaklah terdapat pada ayat-ayat hukum, akan tetapi lafadz mutasyabih ini terdapat pada tempat/Nash lain, sebgaimana ahruful muqatha'ah pada permulaan beberapa surat; alif lam, Qaaf, Ahad dll. atau dalam sebagian ayat al-Qur'an yang menjelaskan bahwa Allah Swt., memiliki perangkat tubuh sebagaimana makhluknya, sebagaimana tercantum dalam beberapa ayat.
Untuk ahruful Hijaiah al-Muqata'ah, seluruh ulama sepakat bahwa tidak ada man'a yang pasti dan tidak adapula penafsiran Allah kepada maksud aslinya, untuk itu Allahu a'lamu bimurodihi. Sedangkan untuk ayat-ayat mutasyabihat terdapat dua perbedaan pendapat, yaitu: ulama salaf dan khalaf dalam menafsirkan Ma'na ayat tersebut.
Pertama: ulama salaf, mereka lebih cenderung tawaquf dalam mema'nai ayat-ayat tesbut dengan meyakini sepenuhnya, tanpa ada usaha untuk mentakwilankan lafadz tersebut ke ma'na lainya, hal tersebut sebagi tindakan kehati-hatian mereka dalam me'ma'nai lafadz tereebut. Landasan ulama salaf adalah dalam menenntukan wuquf dalam bacaan ayat {wamaa ya'lamu ta'wiluhu illallahu } ,
Kedua: ulama Khalaf menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan ma'na mazaji sesui dengaan dzohirul lafadzinya. karena menurut mereka al-Qur'an diturunkan untuk di taddaburi, di kaji dan digali ma'mananya baik yang dzohir maupun yang tersembunyi. Sebagaimana lafadz {alyad}, dima'nai dengan Qudrah yang berarti kekuatan, atau {A'yunina} dengan arti Riayatuna yang berarti penjagaan/pengasuhan. Sebagaimana telah dijelaskan diatas landasan mereka adalah dalam menentukan wuquf yang berebda dengan ketentuan wuquf ulama salaf {wama ya'lamu ta'wiiluhu illallohu waa arrsosikhuna fil ilmi}.

Kesimpulan

Dari uraian diatas, sedikitnya dapat kita ambil kesimpulan bahwa klasisfikasi lafadz memiliki tempat yang sangat urgen dalam kaidah ushulul fiqh, hal ini dikarenakan keberadaanya yang menjadi titik vokal dalam pengambilan serta isthinbatul ahkam Ushul Fiqh. Perlu pengkajian lebih, dalam mene'laah ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadist terkhusus nash-nash hukum, karena setiap lafadz tidak serta merta menunjukan ma'na serta maksud dari konotasi lafadz tersebut, melainkan terdapat berbagai perangkat lain dalam menentukan ma'na serta maksdunya, diantar perangkat tersebut sebagaiaman telah di uraikan diatas; Takwil, Nasakh wal mansukh, Tarjih dll, yang semuanya terangkum dalam ranah ijtihad para ulama dan shalafu sholeh.

Epilog

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah S.W.T, termikasih kepada teman-teman serumah dan seperjuangan yang telah menyokong, membantu serta mengorbankan ketenangannya disaat proses penulisan makalah ini. Tanpa mengurangi rasa syukur, sudah seyogyanya kita sebagai "thalib" warisan para alim ulama agar tidak merasa puas dan cukup terhadap ilmu yang kita miliki, spirit kritis dan bertanya nampaknya masih sangat perlu dibangun, keduanya adalah instrumen istimewa pembuka wawasan pemecah kebekuan dan kejumudan. Masih banyak kekurangan dan kesalahan yang perlu di kritisi dan diluruskan, kurang lebihnya penulis mohon maaf, mudah-mudahan menjadi bekal di masyarakat serta menjadi amal ibadah di sisi Allah. Aminn

Wallahualam Biishowaab
Read more...

Thursday, February 18, 2010

Mimpi


Dipagi hari, saat gelap mulai meninggalkan jejak malamnya, saat mentari masih enggan memberikan sinar paginya. adzan subuh masih belum berkumandang, masih terdengar suara shalawatan yang merdu terpancar dari sebuah speaker mesjid tepat dibelakang flat sekitar tempat tinggalku. Tampak tak ada yang berubah, semua berjalan apa adanya, hening, dan sesekali ada nyaringan serta suara knalpot kendaraan di jalanan sana.
Aku terbangun, tertegun dari tidur malamku, terdengar suara rington sms membawakan lagu romantis milik albumnya Amir Diab. Minggu-minggu ini aku memang sedikit lebih peka dari hari-hari seblumnya, begitu mudah terbangunkan, entah.., mungkin karena sumaringah suasana hatiku yang membawaku demikian.

Sejurus kemudian, ku ambil Hp jadulku yang tergeletak diatas kasur di samping tubuhku. "My honey" tertera sebagai nama si pengirim yang telah lama tersave di urutan nomer kontak HP ku, setelah sebelumnya, nama kontak itu berganti nama dari "Nadia aja" lalu tak lama setelah 3 bulan kemudian ku ubah namanya jadi "Dek Nadia" dan terakhir 2 bulan yang lalu, ku ganti lagi dengan nama baru "My Honey" dan bertahan sampai saat ini, hingga aku berazzam tak mengganti-gantinya lagi, kecuali dengan satu nama "istriku tercinta belahan jiwa", mewakili sejarah cintaku …humm
Perlahan mulai ku baca isi pesanya, satu demi satu kata-katanya mulai terbaca, setiap kalimat menambah ritme getar jantungku yang mulai tak menentu, padahal sms bukanlah fasilitas komunikasi yang baru bagi kita berdua, bahkan untuk hal yang kurang penting saja kadang kita bela-belain untuk segera berbagi cerita melalui fasilitas ini. Mungkin bukan saja hanya pesanya yang selalu berkesan dan penuh kejutan, tapi terlebih karena sms ini adalah pesan terakhir yang dia kirimkan sebelum aku masuk kedunia baru sebagai estafet cinta dari kehidupan masa muda yang penuh dengan warna. " kakandaku" ….deg..deg jantungku berdebar "ini adalah hari terakhir kita bersama,adek ingin agar kita akhiri cerita ini dengan sembah sujud ,sbg rasa sykr kepadaNya,mmhn ridha agar cinta yg kt awali tetap abadi, maaf bila adek t'lah mengganggu".

Sesaat aku terenyuh membaca isi pesan singkatnya, suatu kegiatan yang tak asing lagi bagiku, dikala pagi yang terlalu dini yang rutin ia kirimkan. Dialah bidadari motivatorku yang selalu membangkitkan gairah sembah sujudku untukNya. Walaupun pesanya seperti biasa, tapi bagiku serasa sangat terlalu istimewa, terlebih karena waktulah yang mengolahnya.
Sejenak ku pandangi seisi kamar sebelum beranjak mengambil air Wudlu. Tiba-tiba mataku manatap sebuah figura, terletak diantara PC dan tumpukan buku-buku, disana terdapat fhoto kedua orang tua serta kedua adiku terpampang menatap ku dengan penuh senyuman. Perlahaan aku menatapnya dalam-dalam, ku usapi wajah-wajah yang penuh cinta itu setu demi satu, lalu terbayang saat-saat masa kecilku dahulu yang penuh manja namun mereka tetap cinta. Saat-saat aku menangis di Bandara dan semua mearngkulku dengan mata sembab, kecuali si adik kecilku yang baru lahir karena ia masih terlalu polos untuk merasakan kesedihan dan arti sebuah perpisahan.

Tak terasa bola-bola keristal meleleh hangat dikedua pipiku, kemudian mataku tertuju pada jas hitam lengkap dengan celana serta kemeja putih yang telah tergantung rapih, pakaian yang dipersiapakn panitia kecil untuk kugenakan sebagai seragam cinta untuk mengikuti upacara sederhana namun tetap terjamin sakral sebagai ikatan cinta abadi yang sesuai dengan tuntunan dan aturan, hingga mendapat Ridho dan berkahNya.
Sungguh aku merasa betapa besar anugrah yang telah Allah berikan, kekuatan CintaNya yang terkadang membuat kita seakan sedang di alam mimpi. RahmatNya yang begitu luas, melibihi luasnya lautan dan samudra, hingga hembusan kasih sayangNya yang mampu menyatukan dua jenis makhluk yang berbeda, sebagai salah satu Sunatullahnya.

Lekas aku dekap foto keluargaku itu erat-erat, aku menangis sesegukan, sungguh sebuah kegiatan yang langka semenjak aku meninggalkan masa kecilku dahulu. Rasa haru dan bahagia bercampur menjadi satu, ada sedikit kesedihan yang merasuk, mengingat kedua orang tua dan sanak keluarga yang tak bisa hadir mendampingi, tapi perasaan itu cepat-cepat aku tepis karena aku tahu betapa mereka telah sangat meridhai niat suciku ini, dan bukan saatnya lagi bagiku untuk bermanja-manja meminta segala sesuatu agar dapat didampingi mereka, walaupun Ridha, pesan dan nasihatnya selalu aku utamakan "hidup ini perjuangan" yakinku dalam-dalam.

Ada juga rasa sedih karena akan berpisah dengan beberapa teman-temanku, khusunya teman satu rumah yang lama mengolah cerita dengan canda dan tawa, yang sesekali dibumbui dengan celotehan dan maen gojlok-gojlokan saat satu diantara kami lupa atau terlambat mengerjakan jadwal masak, heumm rasanya kami tak ubahnya seperti saudara kandung sendiri dalam sebuah keluarga cemara.

Aku juga terkadang merasa bersalah sendiri, karena rumah yang telah disewa selama 3 tahun bersama-sama ini, harus mereka relakan untuk tempat tinggal aku dan istriku nanti. Tapi…ah.., toh, ini hanya perpisahan sementara, kapan saja aku masih bisa ko, berkumpul dengan mereka lagi, gumamku dalam hati.

Adapun masalah rumah, sudah jauh-jaih hari aku meminta izin mereka, kita juga udah sama-sama Ridha, apalagi dulu kita pernah sepakat kalau siapa saja yang duluan nikah, dialah yang berhak untuk tinggal di rumah ini, walaupun yaa.. bukan sejenis perjanjian hitam diatas putih, tapi semacam solidaritas persaudaraan untuk mempermudah ibadah pengantin muda.

Tapi yang paling ga enak lagi sama kang Andi, dia adalah seniorku dirumah ini, bahkan usianya di negri ini, 3 tahun lebih dulu dari keberangkatanku. Saat ini beliau sedang menulis dalam rangka program pasca sarjananya, sedangkan aku masih tingkat tiga di fak yang sama, walaupun demikian belaiau adalah orang yang paling dewasa dan bijaksan di rumah ini, belaiaulah yang selalu menampung segala curhatanku saat aku punya permasalahan, bahkan untuk acara pernikahanku ini saja, beliaulah yang paling banyak membantu dan memberikan banyak nasehat. Heumm …Disanalah aku menyadari jika tabir takdirNya siapa yang tahu… ?? bahkan untuk masalah jodoh saja, tak ada istilah pandang umur dan waktu, sambil tak sengaja terdetik dalam hatiku "maaf kang Andi saya mendahului".

Waktu subuh sudah semakin dekat, segera aku bergegas mengambil air wudlu, lalu mulai bertakbir sebagai permulaan sahalat tahajud dengan beberapa raka'at. Setiap bacaan, surat demi surat terasa begitu utuh menyentuh kalbu, dalam sujud pertama aku berharap pintu Tobat dari segala perbuatan dosa-dosaku baik yang disengaja atau yang tak terasa, diberikan keyakinan hati dan keistiqamahan serta ikhlas dalam setiap menjalankan roda kehidupan. Sujud kedua aku berdoa agar diberi keberkahan umur dari setiap kesempatan, berharap agar calon istriku menjadi seorang istri yang solehah se-iyah dan sekata mendampingiku berjuang dijalan Allah, patuh pada perintah agama dan suami, ibu dari anak-anakku yang akan lahir sebagai generasi, hingga bila diakhirat nanti menajdi bidadari surgawi.

Dalam doa-doa panjangku, tak lupa doa buat kebaikan kedua orang tuaku dan juga calon mertua, guru-guru saudara dan teman-temanku seperjuangan, hingga kekuatan agar aku dapat memegang janji setia untuk tidak merokok lagi, selain untuk menjaga kesehatan, janjji ini telah kadung menjadi salah satu persyaratan yang Nadia pinta saat prosesi lamaran di rumah bu Rami tempo hari. Airmataku tak tertahankan lagi, "hanya engkaulah tempat aku mengadu dan meminta, aku hanya hambamu yang kecil dan rapuh, sungguh tak ada daya dan upaya keculai karena mu Ya Allah" pintaku dalam doa.
Saat diri merasa rapuh dan tak berdaya, tak ada lagi kerasnya hati yang tak berdaya, saat itu pula aku merasa menyatu dengan penuh kekhusyu'an dan penuh pengharapan. Cinta sejati kepada seorang makhluk telah memberi insfirasi yang dalam untuk mencintaiNya lebih dari segalanya.

***
Jarum jam menunjukan pukul 8.00 pagi, sisa waktu tinggal 1 jam lagi sebagaimna yang tertera dalam undangan. Rington HP hampir setiap detik bersuara, Banyak sms yang masuk baik dari keluargaku di Indonesia maupun teman-temanku di Cairo mengucapkan selamat dan tahniah. Sedarinya aku sudah bersiap-siap menggenakan seragam cinta sederhana lengkap dengan peci hitam lalu berdiri di depan cermin sambil melafalkan lafadz Ijab Qabul buat akad nanti.
Tiba-tiba Kang Andi sama Arif adik kelasku datang sambil berdehem dengan penuh senyuman meyakinkan ku agar tetap penuh semangat, lalu keduanya menghampiriku dan merangkul pundaku "gimana udah siapkan dim…?" tanya kang Andi, InsyaAllah Kang doanya.." jawabku sambil berseri-seri, walaupun ada sedikit kegugupan yang masih terselip. "kang Dim..sebelum berangkat kita shot dulu ya.., mulai dari pake baju pengantin bercermin sampe nanti pas di Assalam" ujar Arif adik kelasku yang tinggal satu rumah, ia cukup kreatif, orangnya baik cuma kalo tidur sering berisik.., dengan modal handycam dan kompter dia mamapu memebuat perusahaan kecil sejenis jasa pembuatan filem dokumenter buat para Mahasiwa yang ingin mengabadikan moment-moment pentingnya, Cuma untuk kali ini jasanya ia buat gratisan, katanya hitung-hitung buat kado pernikahan kang Adim.

Setelah beberapa menit berpose, si memet dateng memberitahukan sesuatu " cuileuh penganten nya lagi berpose..hihi" clotehnya, " kang Dim pak Hilmanya udah dateng, manehna di ruang tamu", "berisik tauuuuu" timpal Arif yang lagi khusu ng-shoot. " ok sbentar ya Met" pesanku pada memet.

Setelah selesai beberapa menit, Aku menemui Pak Hilman yang sudah menunggu di ruang tamu, belaiu berkacamata dan wajahnya yang selalu ceria dengan senyuman yang selalu tersungging di rona wajahnya, aku langsung menyalami dan mencium tangan belaiu, belaiu pun menimpali dengan merangkulku penuh kehangatan.

Pak Hilman adalah seorang lokal staf KBRI kairo, beliau sudah cukup lama bertugas disini, selain bertugas sebagai staff di atase pertahanan KBRI, beliau juga salah satu sesepuh KPMJB (Kekeluargaan Mahasisiwa Jawa Barat) sehingga tidak aneh jika ia sangat akrab dengan mahasisiwa, khususunya yang berasal dari Jawa Barat, karena ia sendiri berasal dari daerah Bandung, bahkan setiap ada Mahasiswa asal Sunda yang ingin menikah seperti aku disini, beliaulah yang sering bertindak sebagai walinya, " kumaha kang Dim tos siapnya…?" tanyaanya, "insyaAllah Pak". "Cobi ku bapak di tes dulu kang Dim, lafadz akadnya sebentar, biar nanti ga gugup" pintanya.

Setelah dengan lancar aku coba melafadzkanya, pak Hilman mengacungkan jempol sambil tersenym, " wah udah siap inimah, tinggal persiapan buat malemnya, udah siap belum Kang dim, kalo perlu fush up dulu lah.." canda Pak hilman disertai gelagak tawa kang Andi, arif dan si Ahmet.

Kami berempat mulai beranjak, memasuki mobilnya Pak Hilman, Arif mengikut sambil meng-shoot kami dari belakang, setelah semua masuk mobil tiba-tiba si Arif mengingatkan sesuatu" perasaan ada yang ketinggalan… eh…si memet kemana,,??", " lha kemana si memet… coba Panggil rif" ujar kang Andi, "gini emang nih jelekya si Memet nieh.." kelakar Arif kesal, " met mau ikut ga loe, cepetan mau berangkat niehh…!" teriak Arif.

Satu lagi teman satu rumah yang cukup kocak, selain berbadan subur, kadang-kadang kata-katanya polos tapi cukup menghibur, sering nyoba-nyoba pake bahasa sunda, cuma dengan konsonan dan penempatan kata yang kurang pas sehingga terdengar sedikit ganjil, aktivitasnya tak jauh dari komputer, Cuma walaupun begitu, dia cukup produktif mengembangkan hobinya membuat cerpen dan tulisan sasatra, bahkan bebrapa tulisanya sering nampak pada buletin yang aku pimpin TëROBOSAN, serta bebrapa buletin masisir lainya, berasal dari luar jawa, lampung tepatnya, nama aslinya Ahmad Ginanjar, tapi memet adalah nama sapaanya, sebgaimna aku Ahmd Dimyati, di panggil dengan nama singkatan Adim.
Read more...

Wednesday, February 17, 2010

Wanita diantara Prosfektif Timur dan Intervensi Barat


Judul asli: Al-Mar’atu baina Haqaiqul Islam wa abtahilil Gharab

Pengarang : DR. Yahya Hasyim Hasan Fargol
Penerbit : Dar el-Bayan Lil el-Nasyr, Kairo
Copy Right : Diterbitkan tahun 1999 M. Hak penerbitan ada di tangan
pengarang
Jumlah Halaman : Terdiri dari 123 hal,



Wanita laksana tiangnya negara, tanpa tiang coba Anda bayangkan, Kalau semua maju ke garis depan tentunya lemah di garis belakang, kalau wanita juga sibuk bekerja- rumah tangga kehilangan ratunya, kalau wanita juga sibuk bekerja, Anak-anak kehilangan pembina. Bukan salah remaja kalau mereka binal, bukan salah mereka kalau tidak bermoral, bukan hanya makanan, bukan hanya pakaian, yang lebih dibutuhkan cinta dan kasih sayang. Berikut adalah petikan sebuah syair dimana wanita memiliki peran penting baik dalam agama, negara maupun keluarga.
Namun keberadaan wanita di tengah-tengah masyarakat seolah menjadi salah satu problem yang tidak pernah tuntas didiskusikan, ia seolah menjadi isu sosial yang menarik sejak zaman dahulu hingga saat ini. Masalah itu tetap tidak akan pernah tuntas, selama wanita diperlakukan dan memperlakukan dirinya dengan menyalahi fitrah mereka, wanita dihinakan, dipuja bahkan menjadi tuntutan kesetaraan di segala bidang.

Berbagai istilah yang sering kita kenal dengan emansipasi, kesetaraan gender serta karirisasi seakan tidak pernah menemukan titik temu dengan hukum tuhan yang melindunginya, istilah-istilah tersebut seolah bayangan semu membebaskan wanita dari peran aslinya serta mengorbankanya di tengah pergolakan global.


Meski telah banyak tokoh wanita yang memperjuangkan pergerakan kewanitaan, namun pada mulanya Propaganda gerakan tersebut muncul dari pihak laki-laki dan hanya sedikit saja peran wanita. Awalnya gerakan emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi kaum perempuan, namun sayannya seiring dengan banyaknya pengaruh serta stigma negatif yang menyertainya, gerakan emansipasi seolah menjadi gerakan yang kehilangan arah, hal itu tentunya sengaja di buat oleh beberapa kalangan yang ingin memanfaatkan peran wanita dengan memanfaatkan serta merubah orientasi gerakan tersebut menjadi suatu gerakan yang kebablasan.

Dalam sejarah perjalanan umat manusia, sikap ambivalen terhadap posisi wanita tidak pernah berakhir. Barat contohnya, hal ini merupakan provokasi dari kaum sekuler, pemahaman salah dari agama -agama ghairul Islam (non Islam) filsafat serta kepentingan politik.

Masih terngiang bagaimana barat mendeskriditkan posisi wanita, sebaimana yang dikatakan pendeta Paus Tertulianus misalnya, “Wanita merupakan pintu gerbang syeitan, masuk ke dalam diri laki-laki untuk merusak tatanan Ilahy dan mengotori wajah Tuhan yang ada pada laki-laki.” Sedangkan Paus Sustam mengatakan, “Wanita secara otomatis membawa kejahatan, malapetaka yang mempunyai daya tarik, bencana terhadap keluarga dan rumah tangga, kekasih yang merusak serta malapetaka yang menimbulkan kebingunggan”.

Belum lagi posisi wanita yang sering kali dimanfaatkan secara komersil di berbagi ruang lingkup khususnya media-massa. Sebagaimana Yvone Ridley seorang jurnalis Ingris yang kini menjadi seorang pejuang feminis Islam menungkapkan “mereka menampilkan citra wanita yang penuh glamour—sensual dan fisikal. Dengan kata lain, penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi! (Emansipasi;Madu atau Racun), dalam ari kata Kesetaraan gender yang disuarakan barat hanyalah sebuah perbudakan wanita di balik eufisisme pemasaran.” Ujarnya.

Secra umum buku ini akan menungkap bagaimana posisi wanita diantara naungan prospektif Islam berdasarkan hak serta kewajibanya sebagai wanita, serta sangkalan terhadap stigma barat terhadap Islam yang seringkali di sebut sebagi “pengisolasian wanita” dan doktrin mereka yang seringkali memposisikan wanita dalam kesteraan gender yang kebablasan. Selamat membaca.
Read more...