Thursday, April 29, 2010

Bedah Buku افعا ل الإنسان بين الجبر والاختيار

Prolog

Tak diragukan, meyakini adanya Qadha' dan qadar sebagai rukun iman adalah kewajiban. Baik secara tekstual (Al-qur'an dan Hadits) maupun kontekstual dengan keridhaan dan ketetapan hati dalam menjalaninya. Namun secara substantif pemahamanya, sub iman ini mengalami bahasan yang cukup rumit utamanya ketika seseorang mencoba untuk merasionalkanya hingga meng-korelasikanya antara perencanaan Tuhan dengan manusia beseerta akal dan kerja kerasnya sebelum ia benar-benar memahaminya.

Semabagaimana kita ketahui, Qada dan Qadar merupakan salah satu rukum iman yang wajib kita yakini—, hak providensil Tuhan yang tak bisa seorangpun ikut campur dalam menentukanya. Keberadaanya adalah misteri sebelum benar-benar ia terjadi. Mayakini akan kehadirnaya merupakan ikatan kesadaran bahwa ada kekuasaan Tuhan atas makhluknya—, bahwa masadepan manusia tidaklah transenden dalam menentukan pilihanya melainkan Tuhan sendiri telah memberikan hak perogratif sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri untuk mewujudkanya. Innallaha la yughayiru maa bi qaumin

Walaupun demikian tak sedikit yang malah menyalah artikan kemisterianya, entah itu karena keputusasaan yang menggrogoti iman seseorang sehingga memvonis Tuhan tidak adil atas sebagian ketetapanya, atau seseorang yang menganggap bahwa akal adalah akar dari segalanya.

Hingga adapula yang berani benar-benar menampikanya. Menganggap keyakinan kepada qada' telah menghalangi produktivitas akal serta kerja keras mereka dalam menentukan nasib manusia di dunia serta kekhawatiran mendidik manusia bersifat reseftif berlebih, sehingga, pasrah pada waktu yang menentukan, atau sebaliknya, terlalu bergantung pada kemampuan sendiri sehingga timbulah manusia-manusia imanen yang jauh dari nilai-niai ketuhanan, materialis.

Dalam Islam sendiri, baik secara tekstual Al-qur'a dan Hadits ataupun ketetapn zumhur, Qadha dan qadar termasuk rukun iman yang wajib diyakni. Walaupun secara methode pemahamanya, rukun iman yang ke-5 ini telah mengalami beberapa peredebatan cukup pelik, bahkan diantaranya Jabariyah, Qadariyah, Syi'ah, Dzohiriyah atau Mu'tazilah telah menjadi pioner madzhab tersendiri dalam menentukan sikap ganjilnya terhadap rukun iman yang ke lima ini.

Hal ini menunjukan bahwa permasalahan tersebut bukan hanya terjadi di zaman sekarang saja, melainkan repetisi dari pemahaman sebelumnya. Bahkan disaat zaman (Tabi'in) dimana pemahaman para ulama tak lagi diragukan, karena masih banyak berpegang teguh pada orisinalitas ajaran Islam karena kedekatan mereka pada zaman Rasul dan para sahabat, akan tetapi permasalahan tersebut jutsru sudah hadir terlebih dahulu ditengah-tengah mereka.

Awal mula perbedaan pendapat dalam iman qada' dan qadar timbul pertama kali pada masa Umar bin abdul aziz, pada abad pertama hijriah. Diantaranaya kemunculan Madzhab Qadariyah dengan presepsinya bahwa Af'alul 'Ibad tidak diciptakan secara azali dalam arti kata tidak tertulis di Lauh mahfudz—. Menganggap bahwa manusia menciptakan af'al-nya sendiri secara transenden tanpa campur tangan Tuhan, baik secara qada' dan qadar maupun atas pengetahuan Allah atas maha ilmunya.

"Bagaimana Allah menciptakan keburukan sedangkan Ia melarang dan mengharamkanya sendiri?!, atau bagaimna Allah menciptakan Af'alul 'Ibad sedangkan Ia sendiri yang memvonisnya?!" demikian diantara alasan yang seringkali dilontarkan mendasari alasan mereka tentang penolakannya terhadap qada'dan qadar Allah.

Pembahasan Buku

Berikut ini penulis mencoba mepersentasikan sebuah buku kecil, sebuah buku yang mengupas permasalahan qadha dan qadar Allah, dengan disajikan secara singkat namun cukup padat dan berisi.

Buku dengan judul besar افعا ل الإنسان بين الجبر والاختيار dicetak dengan bentuk sederhana, dengan desgn mungil sehingga dapat dinikmati secara santai serta memungkinkan para pembacanya untuk menentengnya kemana saja.

Buku minimalis dengan cover berwarna biru terang tersebut diakarang oleh sorang ulama kontemporer bernama DR. Abdullah Nasih Ulwan, dan dicetak maktabah kenamaan cairo, Dar- el Salam, buku ini telah dicetak sebayak dua kali, edisi ke-2 dicetak pada tahun 2005.


Beberapa Keterangan Tentang Tadir.

Sebelum membahas buku yang akan saya persentasikan secara lebih jauh, berikut ini saya lampirkan beberapa keterangan mengenai bahasan taqdir yang saya kutip dari rubrik Akidah, Majalah Islam ar-risalah No. 96/Vol. VIII/12 Jumadal Akhir - Rajab 1430 H / Juni 2009 sebagaimana berikut ini:

"Takdir itu malam yang jangan kau lalui. Takdir itu lautan yang jangan kau selami. Takdir itu gunung yang jangan kau daki." Inilah jawaban khalifah Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, saat seseorang bertanya kepadanya tentang takdir. Jawaban sang khalifah untuk orang yang menanyainya itu bukan berarti tidak boleh membahasnya sama sekali, tetapi lebih menggambarkan betapa bahasan takdir adalah bahasan yang mesti dipahami dengan seksama dan hati-hati. Orang yang melalui malam gulita, menyelami lautan yang dalam, dan mendaki gunung yang terjal haruslah berhati-hati jika tidak ingin celaka. demikian pula dengan membahas takdir.

Ada bagian tertentu dari bahasan takdir yang mesti dipahami, diyakini dan dipertahankan keberadaannya di dalam hati. Batas minimalnya yaitu keyakinan bahwa apapun yang luput dari seorang hamba memang bukan menjadi bagiannya dan apapun yang menimpanya bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenainya.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Au Dawud dan Ibnu Majah yang dinyatakan shahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albany. Hadits itu diriwayatkan dari Abdullah bin Fairuz atau yang dikenal dengan Ibnu ad-Daylamiy. Dia bertutur, "Aku menemui Ubay bin Ka'ab. Aku mengadu kepadanya, 'Ada sesuatu tentang takdir yang mengganjal hatiku. Beritahu aku tentang sesuatu, kiranya Allah akan menyirnakan ganjalan itu dari hatiku.' Ubay menjawab, 'Seandainya Allah mengazab seluruh penghuni langit dan bumi-Nya ini, sesungguhnya Dia mengazab mereka bukan lantaran Dia menzalimi mereka. Dan seandainya Dia merahmati mereka, sesungguhnya rahmat-Nya itu lebih baik dari amal-amal mereka. Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman kepada takdir dan mengerti bahwa apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu yang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenaimu. Seandainya kamu mau tidak dengan menyakini hal itu, kamu pasti masuk neraka.' Kemudian aku menemui 'Abdullah bin Mas'ud. Dia memberikan jawaban yang sama. lalu aku menemui Hudzaifah bin Yaman, Dia pun memberikan jawaban yang sama. Setelah itu aku menemui Zaid bin Tsabit. Dia malah menyampaikan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang semisal dengan ucapan Ubay."

Sebuah hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari walid bin 'Ubadah, katanya, "Saya menemui 'Ubadah saat dia sakit keras. 'Ayah,' kataku, 'Berwasiatlah kepadaku dengan wasiat yang paling berharga.' Beliau berkata, 'Dudukkanlah aku!' Kemudian beliau berkata, 'Anakku, sesungguhnya kamu tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman dan tidak akan sampai kepada hakikat ilmu tentang Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya sehingga kamu beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.' 'Wahai Ayah, bagaimana aku harus mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?' tanyaku. Beliau menjawab, 'Hendaknya kamu mengerti bahwa apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu yang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenaimu. Anakku sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Benda pertama yang diciptakan oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Pena, kemudian Dia berfirman, 'Tulislah!' Maka Pena pun menulis segala yang akan terjadi sampai hari Kiamat.' Wahai Anakku, jika kamu mati sedangkan kamu tidak meyakini hal itu, kamu akan masuk neraka.'."

Jika seseorang meyakini bahwa segala yang luput dari dirinya memang bukan bagiannya dan bahwa segala yang menimpanya memang itulah bagiannya, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan, niscaya orang itu akan memiliki hati yang tegar. Lebih tegar dan kokoh daripada besi ataupun batu karang.

Sungguh, ketegaran seperti itu telah dimiliki oleh orang-orang Jahiliyah sebelum Islam datang. Kata Ibnu Taimiyah, "Jika ditimpa musibah, orang-orang Jahiliyah biasa menghibur diri mereka bahwa itu adalah qadha' dan takdir. Demikian pla dengan orang-orang musyrik Mekah. Mereka pun menghibur diri mereka bahwa itu adalah qadha' dan takdir."

Salah seorang ulama salaf berkata, "Barangsiapa yang tidak beriman kepada qadha' dan takdir maka dia tidak akan dapat hidup tenteram dan tidak akan pernah merasakan lezat dan nikmatnya kehidupan."

Jika seseorang meyakini bahwa segala kebaikan maupun bencana yang menimpanya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh jauh sebelum langit dan bumi diciptakan, dan bahwa di balik itu semua ada hikmah Allah yang dalam, niscaya dia akan menjelma sebagai manusia yang kokoh dan tegar. Sekokoh besi setegar batu karang.

Sesungguhnya musibah atau segala kesulitan yang diujikan oleh Allah terhadap seorang hamba adalah untuk kebaikan si hamba itu sendiri. Sebab dengan musibah atau ujian itu, derajat keimanan seseorang akan ditinggikan oleh Allah atau dosa-dosanya akan dihapuskan. Mesjipun jika orang itu tidak ridha dan tidak bersabar, musibah dan ujian dapat menambah lemah iman dan memperpanjang daftar dosa yang dilakukannya. Allah Ta'ala telah menyatakan bahwa Dia tidak akan membebani hamba-hamba-Nya dengan beban yang melebihi ambang batas kekuatan mereka. memang hanya orang beriman dan kayyis (cerdas) saja yang bisa menyikapi musibah sehingga menjadi suatu kebaikan. Orang yang tidak cerdas akan menjadikan satu musibah menjadi dua musibah.

Pembahasan Buku

Secara umum, methode penulisan disajikan dengan tema tanya-jawab sehingga cukup memudahkan pemahaman bagi para pembacanya.

Bahasan dalam buku ini terdiri dari dari 10 bab dengan 9 judul besar. Mula-mula diawali dengan muqaddimah pada Bab pertama. Bab Kedua tentang hakikat insan, gerakan, dan prilakunya hingga bab ke-8 tentang sebab-sebab turunya Hidayah, dan diakhiri dengan daftar isi pada bab ke-sembilan.

Ada satu pertanyaan menarik, yang mungkin hampir semua orang pernah terdetik dalam benaknya;

1. mengapa orang kafir (yang jelas-jelas tidak beriman) mampu menguasai/selalu diidentikan dengan perkara duniawi, sebaliknya, orang mu’min yang beriman kepada Allah tidak banyak yang dapat melakukanya ?

Jawaban:

Harus kita bedakan antara perkara duniawi dengan perkara at-Taklifiyat As-Syar’iah yang dibebankan Allah kepada setiap makhluknya.

a. Untuk perkara dunia, Allah memeberikan hak yang sama baik kepada orang Mu’min maupun kafir. Dalam arti kata Allah memberikan porsi yang sama bagi keduanya, yaitu manakala mereka bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam mendapatkanya.
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan di dunia dan tidak tidak ada suatu bagianpun di akhirat.” (Q.S. Asy-syûrâ: 20)

b. Sedangkan untuk perkara At-Taklifiyaat Asy-Syar’iah, Allah hanya mengkhususkanya bagi orang mu’min saja. Bahkan jika seorang mu’min benar-benar menjalankan At-Taklifiyah Asy-Syar’iah secara kaffah, niscaya manusia denganya dapat memperoleh keselamatan dunia dan akhiratnya. Sehingga seorang mu’min mampu bersabar atas bala yang didera, tersenyum atas segala cobaan, dan bersikap lapang serta ridha terhadap apapun yang dihadapinya, dengan sikap itu, manusia kemudian memperoleh ampunan atas segala dosa-dosanyam, memperoleh derajat yang tinggi dan ditempatkan disisi Allah yang mulya.
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa Innaâ ilaihi raji’ûn. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. Al-baqarah:155-157 )

Kekurangan Buku

Pada dasarnya buku ini merupakan buku bacaan sederhana, tidak menjadi buku rujukan, sebagaiaman kitab-kitab rujukan lain yang seringkali dijadikan referensi dan sandaran dalam pembahasan qada dan qadar Allah.
Untuk itu, dari segi methode penulisan, buku ini tidaklah cukup disebut sebagai penulisan karya ilmiah. Disamping tidak disertai daftar pustaka dan referensi mencukupi, keculai beberapa yat-ayat alqur’an saja, buku ini juga tidak dilengkapi biografi penulis.
Walaupun demikian, sebagaiamana telah dijelaskan diatas, buku ini cukup memberikan penjelasan yang cukup singkat namun padat. Disajikan dengan cukup menarik, meliputi pertanyaan dan jawaban yang disertai dalil-dalil serta adanya keahlian ilmu kalam yang dikuasai penulis, sehingga penyajian bahasan agaknya akan mengajak pembaca bukan sekdar menikmati tetapi juga berpikir dan merenungkan isi bahasan. Bahkan, agar lebih mudah dipahami penulis nampaknya sengaja menuliskan beberapa contoh real dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali terjadi berkaitan dengan pembahasan yang dimaksud.

Epilog

Bayak sekali pembahasan buku yang saya persentasikan kali ini yang luput saya cantumkan dalam makalah ini, unutuk ini saya menyarankan agar peserta diskusi untuk dapat memilikinya, bukan saja kara mura hargnya sehingga dapat mudah dijangkau, akan tetapi lebih kepada manfa’at yang terkandng di dalamnya.

Wallâhu a’lam bii as-Showâb
Read more...

Sunday, April 25, 2010

Cinta & Kerinduan

Kenapa rasa cinta begitu menyiksa.....?
Kenapa rasa rindu selalu mengusik, menghujam dan menusuk.....?

Cinta..oh cinta...

Ternyata banyak hal yang aku sendiri tak banyak tau tentang arti cinta.....
Cinta palsu atau cinta sejati.....
cinta biasa atau cinta yang sempurna....


Oh cinta...

Cintakah yang membahagiakanku, menguatkanku, melemahkan aku, menakutiku bahkan menggilakan aku....?

Cinta....
Jika engkau adalah cahaya, maka sinarilah hatiku, maka sinarilah kegelapanku.
Jika engkau air, maka hadirlah saat aku dalam dahaga, maka suburlakanlah setiap ketandusan.
Dan Jika engkau mutiara, maka tunjukan samudra manakah yang harus ku selami.

Cinta...
Dan, tak selayaknya aku mengotori arti sucimu dengan kekasaran dan fitnahan-fitnahanku...

Dimanapun engkau dan kapanpun berada wahai engkau Cinta....
Engkau tentu bukanlah biang yang menyakitkan, yang menjijikan, yang melemahkan dan sederet kata keburukan lainya.....

Cinta....
Memang engkau banyak dipuja-puji.....
dinanti-nanti.....
dicari-cari...
Sampai mati...

Tapi sadarkah engkau cinta....
Banyak pula engkau dicaci dan dimaki
Banyak orang yang setiap hari mengeluh karenamu
Banyak orang yang mabuk tak tentu arah karenamu
Bahkan orang rela menyakiti dirinya sendiri karenamu.....


katanya engkau kekuatan..?!
Katanya engkau keikhlasan..?!
Katanya engkau cahaya..?!
katanya engkau keindahan...?!


Wahai Maha Pemilik cinta......
Ternyata memang hanya Engkau satu-satunya pemilik cinta sejati, pemilik cinta abadi, yang percikan cintanya tak seorangpun pernah tersakiti.

Wahai Pemilik cinta...
Engkau yang tak pernah berhenti mengabdi kepadaku, bahkan ketika aku lalai mengabdi kepadaMu

Engkau yang menutupi setiap aib-aibku, bahkan ketika aku berbangga diri dan mengumbar sendiri aib-aibku.

Engkau yang perintahkan aku selalu meminta kepadaMu, bahkan disaat orang-orang enggan ketika dipintai hak-hak dan kewajibanya.

Dengan cintaku aku dekatkan diri kepadaMu, lalu Engkaupun cintai aku dan dekati aku lebih dekat dari nyawaku sendiri.

Wahai pemilik cinta....

Berilah kekuatan CintaMu.

Hingga hatiku tetap sama,
ketika mamandang kilauan emas atau kelamnya batu.
ketika memandang istana atau gubuk sederhana.
Ketika memandang bidadari atau perempuan biasa

Hingga hatiku tetap SATU

Ketika terang atau gelap-gulita
Ketika dupuji atau dicacimaki
Ketika sendiri atau dalam keramaian
Ketika air berlimpah atau kering dan bertandus

Seandainya kau segera tunjukan keindahan taman-tamanMu, kemolekan bidadari-bidadarimu, kesejukan alam kekalMu. Niscaya Keindahan dunia, menariknya wanita dan menggodanya wanita. Tak lagi aku hiraukan mereka, tak lagi berarti, dan tak lagi menyilaukan mata hati.....

Seandainya segera kau tunujakn panasnya alam kekalMu, bengisnya mlaikat-malaikatMu. Niscaya tak lagi aku mengeluh dengan panasnya waktu zduhur, terlena nikmatnya tidur pertengahan malam-malamMu, dan tak sudi lagi aku berbagga diri, atau pongah dengan kelebihanku-kelbihanku.

Tapi aku sadar, aku hanya manusia biasa, dan seandainya misteri-misteri itu terjadi sebelum waktunya, buat apa ada syaithan, buat apa ada usaha, karena semua tentu dengan akan mudah tunduk kepadaMu. Dan bisa jadi malaikat-malikatMu akan kebingungan membedakan hamba pilihan, hamba biasa, dan hamba gila.

Dan, aku sadar makin Makin lama nulis ko semakin ngawur yach..? he..he..


Tapi yang jelas.....

Mungkin inginku begini....

Wahai pemilik cinta.....
Izinkanlah aku mereguk cawan cintaMu sedalam-dalamnya, seluas-luasnya.

Tapi kemudian, ingin segera aku titipkan kembali, ku kembalikan kembali....
Cinta-cinta yang berhamburan, diantara cinta-cinta yang palsu, diantara cinta-cinta yang membebaniku, diantara cinta-cinta yang menjuhkanku dari cintaMu.

Tapi.... biarkanlah dahulu aku selalu merasa kekurangan dengan makna dan arti cintaMu, agar aku selalu berusaha membukanya, mencarinya dan menyusunnya perlahan.
Lalu memperbaikinya kembali, merapihkanya kembali, dan selalu memperbaharuinya kembali, di setiap detik, jam, hari, tahun demi tahunku menuju janji-janji Mu
Read more...

Saturday, April 24, 2010

Nadi Salab.

Setiap ada pertanyaan, olahraga apa yang paling kamu sukai? tanpa berpikir panjang *karena akan kelamaan* pasti gw bilang, bola....!!!!, dan seluruh duniapun menyahut tanda setuju "oloh-oloh....*

Brader......, waktu itu KPMJB ngadain futsal persahabatan antara Dp dengan Tim Siliwangi, di nadi Salab Zahro. Acara dimulai semenjak jam 8 pagi, ok.


Nah, karena banyak banget yang dateng......*asal tau sendiri yaa..... kalo kegiatan yang ada bolanya......yang dateng pasti ribuan* 'itupun kalo dihitung sama rambut2nya' ckckc..., akhirnya tim bola dibagi 4 tim, selain DP dan Siliwangi juga ada tim serabutan alias tim warga.

Termasuk gw yang so imut dan (g pake 'so')ganteng, dateng ke lapangan dengan celana sontog, kaus belang2 kayak zebra, sepatu putih dari Attabah (yang ini promosi) huahua.

Kucruk...kucruk.. dateng dengan gaya, kayak pemain bola dunia dan akhirat *lhoo ko?!*

Anyway permainan berjalan dengan lancar....satu sama lain saling serang, saling bertahan dan saling bacok...wakwkwk emang lagi twuran jang... saling bacok....?!

Putaran pertama tim gw kalah tipis 1-0 dari tim siliwangi....gw yang waktu itu main sebagai stiker "tempelan", tidak terlalu bisa walakaya, sebab seacra fisik gw lelah berat, akibat pertempuran kemarin siang di Nadi Madrasah sama anak2 Pakeis.

Ketika putaran kedua, baru gw bisa mengungguli...menang 1-0, hore..!!!!

Cuma masalah besar dan sial bagsaaaattttttt.....*banget* maksudnya...ah! Pas putaran terakhir.....gw sebagai stiker handal.....kesenter bola aanjrooott..!! dengan sangad dobit alias dobthon.... bola yang diperebutkan gw sama Agus, akhirnya berputar-putar dengan kecepatan 1 kilo perjam dan dengan sangat teladan sang bola bertengger di mata sebelah kanan gw.....

ougrhhhhh, sakitnya agan...~!!!!!!

Kalo gi ga banyak orang mungkin gw udah nangis lolongseran di lapangan kayak anak kecil umur 4 tahunan pengen dibeliin mobil Mercy. haik..haik *kucing mau muntah*

Kesan pertama waktu gw kesenter bola......adalah sedih, sebagai bukti, mata gw ngeluarin air mata...hiks..hiks!!

Asli gw sedih banget....karena, waktu itu mata gw bener2 ga bisa liat...semua putih melempem, pandangan gw bener2 kabur...., pikiran gw udah kemana2 waktu tu,..
jangan2....gw buta...jangan2 ini rahasia di balik futsal...jangan2 ini akibat nonton filmnya Jupe, jangan2..jangan be'ol di jalanan!!! wkwkwkw.

Asli...gw merasa mungkin gw kurang bersyukur, mungkin Allah menyuruh gw untuk tobat dan selalu ingat atas segala nikmat2nya, terutama nikmat mata...semua perasaan itu datang menyelimuti seluruh isi hati dan luubuk hati gw yang paling dalem...dalem banget....hachimm *gw bersin*

Benar apa kata orang....kita akan sangat merasa dekat dan sangat bersyukur saat kita sedang kehilangan. Benar...kadang kita kurang menyadari betapa besar nikmat mata berupa pandangan yang Allah berikan kepada kita. sadar2 ketika sedang sakit mata, MasyaAllah.....

Samapi gw menulis diary ini, mata gw masih sering sakit2an, terutama ketika melihat sinar secara langsung...mungkin gw kena iritasi cukup parah...tapi alhamdulillah gw udah sempet berobat...cuma dokter ga sempet periksa, dia cuma ngasih gw obat mata. Mudah2an kedepanaya gw bisa sembuh total seperti biasa...amiiin.

Pesan moral: "jangan sampai cium cium bola pakai mata ketika futsal berjalan" berbahaya...!!!!
Read more...

Friday, April 23, 2010

Sersan

Kenapa harus santai.....?!
Kenapa harus rilex.....?!

Kata santai atau rilex, mestinya selalu akrab dalam setiap ingatan kita, atau paling tidak, menjadi sikap pilihan saat kita menghadapi sebuah permasalahan. Santai atau rilex bukan berarti kita menunda-nunda pekerjaan, cuex bebek, acuh atau sejumlah konotasi lain yang disematkan pada dua kata ini . Kenapa demikian?! Karena menurutku kata santai dan rilex juga bisa dikonotasikan pada hal negatif. Misalnya; “udah deket ujian, ko masih bisa santai-santai??! ”


Seringkali istilah sersan (serius tapi santai) terdengar dalam berbagai acara. Biasanya istilah ini diucapkan seorang pemimpin kepada para anggotanya, sebelum atau saat sedang dimulainya acara. Baik itu di pelatihan, orientasi atau bahkan ketika pelajaran di sekolahan berlangsung.

Sikap santai dan rilex erat kaitanya dengan kondisi psikologi sesorang. Terutama penguasaan emosi dan kejiwaan.

Saya pernah mengalami beberapa kejadian menarik tentang pentingnya sikap santai dan rilex dalam arti positif tentunya, okey..Mudah-mudahan menjadi buah pelajaran.

Seorang teman pernah menceritakan kejadian mengharukan tentang seorang teman SMAnya yang tiba-tiba meninggal selepas mengikuti olimpiade matematika. Menurutnya, sekitar sebulan sebelum dimulainya olimpiade, dia berjuang keras mempersiapkan materi olimpiade yang akan diujikan. Adanya keinginan yang kuat serta ambisi yang besar untuk memenagkan ujian, membuatnya belajar mati-matian. Bahkan saking keasyikannya belajar, seringkali waktu tidur dan makanpun terabaikan.

Diakhir penantian, saat olimpiade akan dimulai sore hari, tepat pada paginya dia merasakan gejala-gejala aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, seperti mata kuang-kunang, pusing kepala, dan letih yang sangat. Sempat dia bertanya kepada teman-tamanya, “ko mataku kunang-kunang…?”. Kahwatir dengan kondisi fisiknya yang kurang vit, baik guru maupun teman-temanya menyarankan agar dia merelakan untuk tidak ikut olimpiade.

Walaupun dengan keadan kurang vit, anjuran tersebut tak lagi dihiraukanya. Menurtnya, bagaimana mungkin perjuangan selama satu bulan harus dia siasakan dalam waktu bebrapa jam saja?!.

Seusai mengikuti olimpiade, pusing dikepalanya serta mata kunang-kunangnnya semakin parah, bahkan kata-katanyapun mulai tak lagi terkontrol. Lalu dia tertudur, dan didalam tidurnya di menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah diteliti, ternyata ketidakrilexan-nya telah membuat semacam paksaan terhadap saraf-saraf otak untuk bekerja non stop, sehingga saraf-saraf itu putus dan menyebabkan kematian. Inalillahi....


so, to be SERSAN (serius tapi santai).....:)) ok..
Read more...

Tuesday, April 20, 2010

Prosma

Berawal dari Prosma. Dulu kita sempat ingin menghapuskan materi Catar (catatan harian), karena menurtku catar itu ga penting2 amat. Nulis catar ga usah ada aturan baku, itu terserah mood orang *menurutku waktu itu* lagian pematerinya udah balik duluan ke indonesia, dan itu diamini oleh sodara saya Ayok. Iyakan Yok..?! he..

Tapi ternyata Mbak Desi, merubah anggapan itu. Menurutnya, banyak penulis handal yang berangkat dari Catar. Sebut saja diantaranya Franklin *klo ga salah tulis* seorang penulis terkenal dari belanda yang menuliskan diarynya saat dia dikejar-kejar tentara Nazi ketika PD ke-II, atau Andrea Hirata, Raditya Dika dsb, dsb.

Singkat kata, catar itu penting. Tapi siapa yang mau ngisi, “kita ga punya pemateri” kata saya dan Ayok sambil ngelirik dan ngerayu mbak Desi. Karena merasa tertodong *mungkin sich… :D* mbak Desi kemudian tak bisa menolak rayuan Ayok, lalu pasrah menerima kesediaan dari Prosma untuk jadi pemateri Catar. Hore…!!!

Nutrisi2 kepenulisanan Mbak Desi saat materi catar sangat inspiratif, bahkan mampu merubah tanggapan umum kita tentang apa itu urgensi catar. Sebagai bukti, 2-3 hari setelah selesainya materi tersebut, ada beberapa anggota prosma yang nyata2 dia anti banget sama catar/diary, kemudian tiba2 mentag tulisan diarynya ke FB-ku.

Dengan bentuk pengalaman biasa/umum-umum saja, tetapi disajikan dengan gaya penulisan menarik, naratif, deskriptif, kadang eksotik juga kali ya…*padahal sya belum tau apa arti eksotik* heuheu.. dan juga bagaimana seorang penulis bersikap jujur terhadap apa yang dialaminya lalu menuangkanya dalam bentuk tulisan. Keurenn…!

Dari sini saya beranggapan, wah..mbak Desi berhasil, mana mungkin seorang yang anti diary dengan anggapan *melankolis, ke pink2an, terlalu mendamatisir keadaan delele) lalu tiba2 menuliskan diarynya dengan cukup baik layaknya orang yang terbiasa nulis diary. Wah terimakasih mbak Des…

Oh iya, karena Prsoma udah selesai, saya ingin berterima kasih kepada semua
temen-temen Prosma, utmanya kepada para Pemateri (Mbak Desi Hanara, Keh Kadarisman, Mang Rashid Satari, Mang Teguh Hudaya, Ust Syukur,) atas pengorbanan waktu serta aktivitasnya, terimaksih banyak mudah2an ilmu2nya bermanfaat. Juga Ayok *Prosma tanpa ayok kayaknya ga bakal jalan dech.., makasih Yok* Juga sahabat2 Prosma semua yang sudah mengikuti sejak awal hingga akhir, atau yang berhalangan. Terimakasih. Terimakasih juga buat DP KPMJB, DP Fosgama dan Pasangrahan atas segala bantuan, mulai tempat, pendanaan, waktu yang terganggu, semuanya pokoknya.

Tak lupa, saya secara pribadi, dan Manggala-Prosma sebagai pihak penyelenggara, memohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Semoga kita selalu tetap menjalin silaturrahim, dan senoga kita tetap terus berkarya amiiin….:d
Read more...

Tuesday, March 16, 2010

Para Pengemis


Disuatu pagi, sekitar pukul 07.30 sepulangnya dari rumah teman, aku berjalan di trotoar sempit antara pertigaan Ahmad Said menuju Asrama Buust melewati Sinagog Yahudi yang tak berfungsi tapi mulai diperbaiki dan dijaga ketat oleh dua orang polisi. Selanjutnya melewati pertigaan Nadi Moyah tentunya. Seperti biasa, rute Robea Al adwayiah-Buust via pertigaan Ahmad Said merupakan salahsatu pilihan alternatif bagiku bahkan bagi kebanyakan masisir yang tinggal di asrama Mission City bila bis biasa tak kunjung tiba.

Trotoar tersebut masih terlalu sepi dan sempit, sesepi negri Mesir dikala pagi dan sesempit kebanyakan trotoar di negri ini. Jalananpun masih cukup senggang hanya sesekali dilewati kendaraan pribadi, “mungkin mereka salah satu yang punya janji, janji untuk keluarga atau untuk dirinya sendiri” gumamku dalam hati. Hampir tak ada kendaraan umum atau malah tak ada sama sekali, apalagi saat itu masih H-3 dari lebaran Haji.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku merasa diikuti oleh sesosok orang, dan akupun merasa sewajarnya bila menaruh curiga. Selanjutnya, ku lirikan mataku ke arahnya. Beruntung kawan, ternyata dia hanya seorang bapak-bapak paruh baya namun jalanya seperti terburu-buru. Merasa dicurigai anak muda “tampan” macamku, si bapak mengalihkan jalanya ke tepi jalan. Dan kawan, saat-saat seperti inilah aku merasa berdosa, kenapa tadi aku harus curiga? Kenapa tak kutanya terlebih dahulu. Bapak penjahat atau bukan? Jika bukan, tentu kan’ ku ajak dia berkawan. Jika ya, tentu kan’ ku keluarkan jurus-jurusku, jurus teriak maut atau jurus lari terbirit-birit. “tapi ah...ku kira jangan kawan, ide itu terlalu canggih!”

Setelah mendekati pertigaan nadi Moyah, aku teringat sesuatu, yah...teringat dengan sesosok bapak tua yang tak berkaki, dan seringkali dia mangkal di pertigaan itu. Aku teringat dengan keikhlasanya— ketulusanya menyapa setiap pejalan kaki dengan salam, senyum lalu doa kebaikan, akrab...akrab sekali. Fisik bapak itu tak sempurna, dia tak berkaki, sehari-harinya duduk diatas skateboard sederhana, jika berjalan roda-roda besinya akan mengeluarkan suara yang bisingnya minta ampun, “kruuuuk...krurrrk” mengalahkan suara kendaraan yang hilir mudik di hadapanya. Entah siapa yang membuatkannya, anak-anaknyakah, saudaranyakah, yayasan sosialkah, atau malah dibuatkan olehnya sendiri?!

Berjalan, makan, menerima uang, semuanya dilakukan dengan kedua tanganya, hati siapa yang tak kan iba memandangnya? Tapi ketulusanya, senyuman dan kepolosan sapaanyanya kepada setiap pejalan kaki telah membuat aku kagum dengan sosoknya. Senyumanya telah mengajariku agar jangan pernah mengeluh, ketulusanya telah mengajariku agar aku selalu bersyukur, sapaanya telah mendidik jiwaku agar dapat selalu menikmati kehidupan fana ini disaat sempit maupun lapang, disaat kaya maupun miskin. Dan kawan, aku tak pernah melihat beliau menengadahkan tangan seperti kebanyakan pengemis lainya, dia hanya akan tersenyum lalu menyapa setiap pejalan kaki.

Wajahnya sedikit menghitam, mungkin karena seharian dibawah sinar mentari juga karena asap volusi. Beruntung kawan, senyumanya selalu menyegarkan wajahnya kembali. Mungkin dalam senyumnya ada kesyukuran lalu berusaha memberikan sodaqah sederhana bagi tiap pejalan kaki. Dalam ketulusanya ada ketegasan, ketegasan bahwa dia sedang menikmati taqdir Ilahi. Atau jangan-jangan dia seorang kesatria, kesatria yang tak pernah mengeluh pada nasib atau pada ketetapan Tuhan yang penuh misteri lalu dia berusaha mensyukurinya. Sayang waktu itu aku tak menemukanya, lalu tiba-tiba hati ini merindukanya.

Fenomena pengemis di jalanan, di bis bahkan dimanapun kita temukan, tentunya tak selamanya berimplikasi buruk. Bukan melulu pemandangan seorang pengangguran atau gambaran negara berkembang yang sedang mengalami frigid dan tak maju-maju—bisa jadi karena anggarannya banyak dimakan koruptor atau malah kebanyakan menggajih dewan, lantas tak mampu lagi ciptakan lapangan pekerjaan.

Malah, Jika dengan hati terbuka maka kita akan melihat pemandangan makhluk-makhluk “lusuh” yang pantang menyerah, walaupun bukan dengan “profesi” yang mereka cita-citakan namun diantaranya tetap ikhlas, sabar mejalani hak providensil Tuhan yang digariskan. Keberadaanya senantiasa memberikan pelajaran berharga, yaitu pelajaran bersyukur dan gerakan saling mengasihi.

Kawan, Ada perbedaan cukup kontras antara fenomena pengemis di negri ini dengan di tanah air kita, “menurutku”. Di Mesir, hampir saja aku tak menemukan pengemis yang tak berbaju lusuh apalagi sampai memaksa kasar. Di Indonesia, pendidikan mengemis malah banyak di galakan, menyedihkan..! Di dalam bis kota seorang pengemis tak ubahnya seperti preman pelabuhan, tubuhnya kekar, wajahnya menyeramkan dan tak sungkan mengancam. Sayang, tubuh yang gagah dan kekar namun mentalnya peminta-minta.

Prie GS, dalam tulisanya, dia pernah bertemu seorang bapak paruh baya di dalam angkot. Suatu ketika si bapak menolak dipungut bayaran, tampangnya seperti kebanyakan. Tentu menjadi sangat ganjil jika menolak bayaran.

“saya ini pengemis” ujarnya kepada karnet. Kemudian terjadi adu mulut antara si karnet dan si bapak yang mengaku pengemis tersebut. Tak lama kemudian, adu mulutpun berakhir itu terjadi setelah si bapak menunjukan sesuatu dari tasnya, sambil berujar, “ini pakaian ngemis saya..!” si kornetpun melongo keheranan. Ironis..!

Bahkan para pengemis kita duduk-duduk santai di kursi dewan, mengaku pembantu rakyat tapi sering ketiduran saat berlangsungnya sidang malah kadang gila jabatan. Bahkan ada juga pengemis di kantor-kantor sekolahan, mengambil sogokan dari tiap wali nakal yang punya anak nakal. Atau baru-baru ini di kantor-kantor kepolisian atau kejakaan, hilang keadilan gara-gara ngambil “tambahan”. Menyedihakan..!

Lalu siapa yang akan disalahkan...!?, Penjajahan Belandakah yang tega menjajah kita selama 3,5 abad dan secara tidak langsung mendidik pendahulu kita untuk bermental abid. Atau orde barukah yang telah mengekang kebebasan kita selama 32 tahun...!? Ah’ rupanya aku terlalu sok tahu, padahal semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Terkadang aku berpikir, jangan-jangan aku malah one tipe dengan mereka (para pengemis; red). Walaupun dengan pakaian sedikit lebih rapih, fasilitas kehidupan sedikit lebih lengkap misalnya, sudah berani mengemis jarak, biaya dan waktu kepada orang tua misalnya, tapi aku malah berani banyak-banyak berdiam diri lalu asyik tiduran. Memohon ilmu kepada guru, tapi malas mengamalkan. Aktiv di beberapa kegiatan misalnya, tapi aku malah mengemis pujian. Banyak berkarya tapi aku gila ketenaran. Oh...tidaaaaaak...!!!

Ok..ok kawan, mudah-mudahan kita tidak seburuk itu, semoga hati kita selalu tetap siaga, ikhlas saat sempit maupun luas. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, bersyukur dengan apa yang ada lalu bersyukur dengan tetap mengoptimalkan setiap waktu dan kesempatan serta mengedepankan asas manfaat, bukan hanya untuk pribadi bahkan untuk masyarakat yang lebih luas. Khairu annasu anfau’hum linnas.
Wallahua’lam
Read more...

Monday, March 8, 2010

Dari Nazi, Yahudi Samapai China


Ngebet pengen nulisin apa yang ada di otak, tapi tangan ini tak kunjung bergerak, ah jadi mules rasanya...."kunaon jang, dahar cabe..?! :D..". Apalagi kalo dah megang FB..., komplikasi jadina...

ya kadang ketika ada kesempatan buat nulis, pengen ngesay, pengen jalan, pengen nonton, pengen apa. Jadinya, ya.. ga jadi jadi. Tapi itu mungkin emang sudah godaan, atau kurangnya kemauan. Taulah..?!


Ok ok biar tulisan ini agak sedikit bermanfaat, khususnya buat ane yang nulis, juga buat temen2 yang memang berkesempatan buat baca note ini, ya.. kali aja kan', ada yang mau kasih masukan, atau sekedar berbagi cerita sama yang lagi nahan laper, "eh salah..slah" maksot gw yang lagi pengen nulis apa yang ada di kepalanya, tapi ga jadi2 nulisnya, kayak ane sekarang ini, gawat kan?! "anak gajah makan kawat, nya jelas mati.. atuh, o'on heheh" (eh..eh Sory..:))

Eumhh..apa ya..?!

Ane mulai dari peristiwa singkat ketika duduk-duduk santai bareng di Pasangrahan. eum..waktu itu kita kelaperan "ma'lum baru bangun dari tidur semalaman"

Kita berlima, terus.. sambil nungguin ada yang bersedia kebawah buat beli makanan, tiba-tiba kita ngobrolin tentang Nazi, Yahudi terus ke budaya China, ga jelas darimana asal muasal obrolan. pokoknya gitu aja. titik.

Diawali dengan buka2 file koleksi album di PC teman. Disana ada foto2 dia lagi action, dekat perbukitan daerah matruh. "kayak di sinai ya...?" tanya teman disebelahku. 'eh iya ya...' kata teman yang satu lagi

"ngomong-ngomong Sinai, menurut berita, sekarang sebagian tanahnya telah dihibahkan Mesir buat Palestina. Katanya sih..itu atas desakan Amerika dan Israel. soalnya sebagian tanah Palestina di Gaza terus dijajah israel buat pemukiman orang-orang Yahudi" kataku agak sotoy.

"dasar we..yahudimah sagala digalaksak, engges wee kabeh ku yahudi, tumanlah..!' kata temen ane ikut kesel.

"itulah watak Yahudi. bahkan tidak ada satu keteranganpun yang mengatakan bahwa ada satu kelompok bani isarel yang dinyatakan setia taat kepada Nabi, sebagaiamana kaum muslimin atau sebagaiaman 12 orang pengikut setia Nabi Isya (hawariyun). kecenderungan mereka selalu ingin melenceng, kecuali mungkin perindividu saja yang sadar dan tobat, tidak sampai pada keterangan kelompok." (kata siapa yah..ini??!)

Ketika buka2 album yang lain, ane lihat ada tempat persembunyian tentara Nazi di daerah Matruh, Kebetulan temanku emang pernah travel kesana, salah satu tempat rekreasi di Mesir. .


"eh ko ada tentara nazi disini si..?"tanyaku heran.
"oo iya itu tempat persembunianya waktu PD II" jawabnya singkat.

Terus ada juga temanku yang lagi kelaperan, "eh..ternyata orang jerman, mereka sangat bangga lho..dengan Hitler dan tentara Nazinya!!!"

"iya dong...siapa lagi kan yang mau membanggakan hasil negrinya sendiri" ucap ane.
"o iya jelas, harus bangga" kata Akang ikutan nimbrung..

'eumm, ternyata tentara Nazi ada dimana-mana yah...' kataku. "kalo ga salah, dulu ane pernah baca juga, katanya di Indonesia ada salah satu komplek kuburan tentara Nazi. nah, setelah di telusuri sejarahnya, ternyata mereka adalah para tentara yang diutus Hitler untuk membunuh/mencari orang2 Yahudi yang melarikan diri Ke Indoensia ketika masa-masa perang dunia ke II" kataku masih dalam keadaan setengah sotoy, hehe....

Dalam majalah sabili edisi sekian, ketika orang2 Yahudi mengalami banyak penganiyayaan khususunya di daratan Eropa mereka banyak mlarikan diri, menjadi imigran ke berbagai negri, termasuk ke Indonesia.

Salah satu kepintaran Yahudi, mereka selalu berusaha menguasai para petinggi yang berada di tempat tersebut. Ketika di Indonesia mereka berusaha menikahi gadis-gadis, dimana orang tuanya yang memang memiliki privilese di tempat tersebut. salah satu buktinya adalah Ahmad Dhani, Dewa. kata majalah tesebut memiliki keturunan Yahudi, entah nenek atau kakeknya, lupha.....

"oo pantesan lambang2nya mirip lambang Yahudi....' kata temen ane ikut mengomentari...

Bahkan di daerah Jatim, sudah terdapat Sinagog. Cuma ketika diinvestegasi, penjaganya berusaha mengelak dan mengatakan kalau bangunan ini hanya rumah biasa, padahal didalamnya ada mimbar serta beberapa lambang yang dipakai umat Yahudi. Juga katanya ada di Bandung, cuma sayang keberadaanya tidak bisa di ivestigasi.

kembali lagi ke bahasan semula, bagaiamana Yahudi banyak yang diusir dan banyak melarikan diri. Itu, karena orang2 Yahudi dianggap sangat membahayakan mereka, makanya kan ada istilah Holoucus, (walaupun jumlah korban dan dahsyatnya peristiwa tersebut banyak sekali kedustaan.

Mereka; Yahudi, mebesar-besarkan peristiwa Holoucus sebagai tragedi penganiyayan bagi umat Yahudi. Demi mengambil simpati dunia agar mau melindungi komunitas mereka. Salah satunya Inggris ( yang menjajah Palestina saat itu) yang bersimpati dan mempersilahkan mereka untuk Hijrah ke Palestina )

Ane lupa lagi, arah pembicaraan menuju kemana.., yang penting waktu itu, kita mumggu datang makanan buat sarapan pagi.

Akhirnya dateng juga makanan yang kita tunggu-tunggu. Ada Pizza, (ya pizza murahan, paling 2 le-an, hoho..) sama roti keju plus madu. lumayan lah buat ganjel perut.

ok..ok lanjut lagi gan...!

Tiba2 dari pembicaraan Nazi dan Yahudi, ngalur ngedul sampe ke Cina.
(sebelum tertipu, ada kata2 yang ane tambah biar rada seru..gpp kan..:d)

Kata ane sok tahu, "jadi china itu memang memiliki sejarah kebudayaan yang cukup kuat, dan itu sangat berpengaruh pada watak serta mental mereka dimasa kini bahkan yang akan datang." sok mataf kan?? :d

"negara mereka menganut sisitem ekonomi liberal" lanjut gw masih St12. "Negaranya memberikan kebebasan serta motivasi kepada setiap warganya (swasta) untuk memproduksi apapun, makanya, walaupun warganya terbanyak, tapi tingkat serta regulasi ekonominya begitu pesat. walaupun prinsip produksi mereka, "mendahulukan kuantitas daripada kwalitas"

"ooo iya heuhh bener" kata teman disebelahku. (padahal ane st12..heheh)
"murah, tapi cepet rusak" kata dia menambahkan.

"ya..contonya aja Di SUkabumi, banyak sekali orang Cina yang menguasi pasar serta perdagangan. Tapi sekarangmah citra orang cina udah agak menurun, kepercayaan serta daya beli masyarakat kepada pedagang Cina sudah mulai berkurang, ayenamah masyarakat Indonesia sudah mulai berpikir, artinya sekarang masyarakat kita sudah pada pinter" kata teman yang satu lagi ikut menaggapi.

"memang sudah saatnya kita memanfaatkan para pedagang lokal, gerakan Cinta produk dalam negri mestinya harus lebih ditekankan. ya..walaupun harga lokal masih lebih mahal dibanding produk mereka" ujarku mendukung.

Tapi menurutku fakta dilapangan umumnya tidak demikian, pedagang china masih menguasi pasaran, bukan hanya soal produksi, demikian juga perdagangan. Bahkan mereka mampu menguasai di berbagai bidang dan jasa. Contohnya propherti, bank, kontaraktor dsb.

Kadang pemerintahpun merasa sangat kesulitan. disatu pihak masyarakat dianjurkan untuk mencintai produk dalam negri, tapi dipihak lain, produk Cina jauh lebih murah dibanding produk kita sendiri. Apalagi bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, ukuran harga masih menjadi patokan utama.

Penguasaan warga tionghoa dalam hal keduniaan, sebetulnya tidak terjadi secara kebetulan, tapi semuanya tumbuh dari sebuah keyakinan, tuntutan kehidupan serta Pengalaman sejarah. Unsur-usnsur tersebut itulah yang menjadi elemen kolektif sehingga mampu membangun watak serta kepribadian mereka dalam menguasai usaha dan materi.

"Orang Cina sangat terkenal dengan keuletan" kata tyeman ane ikut menanggapi percakapan kita. "benar, 25 perak aja dikejar-kejar" kata Ucen.

Jangan lupa, selain ulet mereka juga sangat terlatih untuk hidup mandiri dan sederhana. Bahakn ketika mereka telah menjadi seorang pengusaha suksespun, mereka tidak serta merta mudah berfoya-foya.

Dulu Pak kyai pernah bercerita. saya punya langganan toko cina. Tokonya cukup besar dan terkenal, tapi setelah bapak perhatikan, ternyata pemiliknya begitu sangat sederhana,setiap hari pemiliknya cukup menggunakan speda onta dari rumah menuju tokonya. ungkap beliau.

Memang benar, banyak cerita tentang bagaimana keuletan dan kesederhanan warga Cina dalam prilaku kehidupanya.

ketika SD, seorang guru pernah bercerita. Orang Cina itu kalo tidur sepatunya aja sengaja engga dilepas, alasanya, agar pertumbuhan kaki engga cepat membesar, dan secara otomatis sepatu mereka tidak cepat ganti ukuran. Hemat!!!. uajar guru ane menasihati.

fenomena orang Tionghoa yang banyak menguasai sektor perdagangan dan perusahaan, khususnya di Indonesia layak kita carikan solusinya. Dimulai dari bagaiamana kita sebagai pribumi agar dapat meniru hal-hal pofitis rahasia keseuksesan mereka, membangun kesadaran agar masyarakat lebih cinta pada produk dalam negri, membentuk mental serta para pengusaha lokal agar mampu bertahan dan bersaing dengan para importir luar, serta kebijakan-kebijakan pemerintah yang seharusnya lebih mengutamakan para pengusaha lokal, salah satunya dengan membatasi perijinan barang imporan.

Dalam catatan Sejarah, memang katanya orang Cina sudah sangat lihai dalam hal berwira usaha. Ketika Para agresor, datang ke Indoensia, orang-orang Tionghoa banyak dimanfaatkan oleh mereka (portugis, belanda dsb) untuk membantu mereka dalam sektor perdagangan di Indonesia. Alasanya, orang-orang Tionghoa lebih lihai dari orang pribumu sendiri. Bahkan mereka lebih tau dan sangat menguasai medan serta jaringan perdagangan di tanah air kita.

Bahkan, privilese2 warga tionghoa di Indonesia tak berhenti sampai disana, tapi berlanjut sampai masa kemerdekaan, orde baru, bahkan sampai saat ini. Dari sekian pengusaha besar dan milioner di Indonesia, barangkali para pengusaha lokal masih bisa dihitung jari.

Tionghoa di masa Orde, Suharto......udah duluw,....ntar lanjut lagi kalo ada muddd
atau yang mau ngelanjutin jga boleh heuehu.....
Read more...