Tuesday, June 29, 2010

Long Holiday it's Began....



Setelah sebulan lebih disibukan dengan diktat kuliah, wuihh..akhirnya datang juga liburan yang di tunggu.

Muqarar..tahdid..muqarar..tahdid, itu..ituuu.. mulu..,ada juga ya..ternyata saat-saatnya gue merasa BT dengerin kalimat ini hehe.., but..but take it’s easy everything i’ll be oke..!

Barder, Kayaknya ujian kali ini udah bisa mecahin rekor muri..,versi gue..,yaitu jadi ujian yang paling panjang dalam sejarah ujian gue di dunia, inget belum di akhirat ya...,

Ujian yang cukup melelahkan tapi ga keringatan...huwff. Bayangin aja kawan, ujian mulai tanggal 18 Mei dan baru berakhir tgl 18 juni, walaupun akhirnya kita harus sabar karena akhir ujian diundur sampai tgl 21 Juni, dengan jumlah maddah 13 materi plus Oral Oxam buat Tahfidz Al-Qur’an dan Hadits....

Ya uwess semua udah gue lalui dengan baik..paling tidak gue ga sempet pingsan gara-gara lupa makan, atau ga sempet ke rumah sakit gara-gara ga bisa boker selama ujian hoho...

Ada berbagai peristiwa yang gue sempet alami saat-saat menikmati masa ujian, tapi..tapi yang paling konyol adalah ketika kedatangan Obama. Tau kan kawan, Obama..yang mantan sopir gue yang kebelet pipis itu..heu..

Gimna ga konyol kawan..?! saat-saat kita harus mengakhiri ujian tanggal 18 akhirnya harus di tunda sampai tgl 21 gara-gara kedatangan Obama ke negri ini, katanya sih datang dengan misi pedamaian khususunya buat negara-negara teluk dan timur tengah, cuma ga yakin gue siapa tau kan cuma mau mengintervensi timur lewat kedok perdamaian dan manisnya retorika sang penguasa, seperti halnya biasa idiologi mereka hanya hegamoni kepentingan. sotoooooy ^_^

Menurut gue ada yang terlalu berlebihan ketika pemerintah Mesir menyambut kedatangan presiden super power ini, salah satunya sebagai mana yang telah gue alami dan kawan-kawan alami disini.

Sebagaimana biasa kalo udah ga betah duduk, pantat gue kepanasan dikamar, biasanya gua minggat mampir ke kamar kawan gue di flat Sya’rawi tempat Haikal sama Dudi bertengger heheh sory Dud.. pagi sekitar jam 9 pagi. Lagi enak-enak baca Muqarar..(diktat kuls), sambil dengerin musik lagu-lagu berirama slow rock dari band-band indo yang kata makin mejamur, band apa ... gue lupa lagih.

Tiba-tiba tok..tok, ada gdor..gdornya juga sih lmyan keras, wah dari gaya ngetoknya ketauan nih si Mesir pikirku. Pas dibuka pintu, ga salah..ternyata emang si mesir, dia adalah petugas rayon flat asrama, trus dia bilang “ ya dudi maleys..a’fil nafidzah, atfi kumputer stuma itl'a barrah kulluh..!!" ujarnya dengan konsonan khas mesir.

Gila kan, masa kita disuruh matiin PC tutp jendela trus di suruh keluar semua (diusir tepatnya). "fie'ehh yaa amm..?!" gua nyoba nyelah sambil pake isyarat tangan (telapak tangan gue di angkat setinggi dada, kepala ditekukin, gaya kebingungan yang didaramatisir, kayak bintang iklan film hheh..).."maleys ahsan Obama sa yasir..".ketusnya.,
weee :P balasku. ya..udah kita keluar semua.Dikiranya kita sniper kale ....cetus Haikal, kesal

Dan teryata kawan, urusan ga berhenti ampe di situ aja..Akhirnya peserta rombongan,(gue,Haikal&dudi) pindah ke Flat kamar gue, berharap dapat ketenangan setlah sebelumnya kesal diusir petugas rayon yang ikut-ikutan kena syindrom Obama.

Lanjutnya gue ga sempet buka muqarar, kita malah sempet nonton TV liat acara penyambutan Obama di istana Muabarak. Gak lama duduk-duduk sambil nonton, tiba-tiba ablah-ablah yang biasa piket bersihin flat asrama, ngetok-ngetok pintu kamar sampai akahirnya kepalanya nongol sendiri dari balik pintu yang ga terkunci, lantas dia bilang " a'fil nafidzah..!" ujarnya agak songong..(orang mesir biasanya kalo ngomong agak songong, khususnya yang ga berpendidikan, suaranya diangkat keras walapun lagi ngobrol biasa, apalagi kalo lagi marah, ketawanya terbahak-bahak kalo perlu make microfone kali..biar kedenger satu flat) ih najis,,,,gue mah..

Ya .. gimana kita ga jadi sensi kawan, masa flat yang begitu jauh dari jalanan terhalang oleh 5 flat masih juga disuruh tutup jendela ah.., kebayang ga sih kawan....,mana kamar lagi puanas-puansnya lagi.

Emang...emang sih gue lagi lebay banget waktu tu, gue pikir siapa juga yang mo nembakin Obama fwuiehh..

Tapi ya..ada juga sih..manfaatnya buat gue paling tidak kita dapet waktu senggang sekitar 5 hari buat mengahdapi materi ujian berikutnya..,waktu itu....!

Akhirnya si Ucik kawan senior gue, protes dengan gaya bahasa amiah yang dimirip-miripiin ." leih ya Amm, hal kullunna yadurru Obama...? wes wess" bicara apa tau...kecepetan sih ngomongnya...#*, akhirnya si ablah juga ikut nimpalin, merasa ga enak gue ikut berdiri (dengan gaya sok gagah, kaya macan lawan gajah lagi kentut..preet).

sebelum terjadi adu mulut yang lebih sengit, untungnya ablah satu lagi ikut melarai, (tau ga kawan, kalo ablah yang satu ini orangnya baik banget, gue tau karakternya, umurnya kira-kira 60 tahuanan hampir ga tega gue panggil dia ablah, pak ablah aja kali ya..)

Akhirnya dia ikut melarai dengan suaranya yang khas dan lembut, dia sangat pengertian sama mahasiswa-mahasiswa yang tinggal di flat ini(sayang gue belum tau siapa namanya)karena itulah walaupun profesinya hanya sebagai tukang bersih-bersih namun cukup disegani.

ya terus...Jendela ditutup .
Read more...

Thursday, April 29, 2010

Bedah Buku افعا ل الإنسان بين الجبر والاختيار

Prolog

Tak diragukan, meyakini adanya Qadha' dan qadar sebagai rukun iman adalah kewajiban. Baik secara tekstual (Al-qur'an dan Hadits) maupun kontekstual dengan keridhaan dan ketetapan hati dalam menjalaninya. Namun secara substantif pemahamanya, sub iman ini mengalami bahasan yang cukup rumit utamanya ketika seseorang mencoba untuk merasionalkanya hingga meng-korelasikanya antara perencanaan Tuhan dengan manusia beseerta akal dan kerja kerasnya sebelum ia benar-benar memahaminya.

Semabagaimana kita ketahui, Qada dan Qadar merupakan salah satu rukum iman yang wajib kita yakini—, hak providensil Tuhan yang tak bisa seorangpun ikut campur dalam menentukanya. Keberadaanya adalah misteri sebelum benar-benar ia terjadi. Mayakini akan kehadirnaya merupakan ikatan kesadaran bahwa ada kekuasaan Tuhan atas makhluknya—, bahwa masadepan manusia tidaklah transenden dalam menentukan pilihanya melainkan Tuhan sendiri telah memberikan hak perogratif sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri untuk mewujudkanya. Innallaha la yughayiru maa bi qaumin

Walaupun demikian tak sedikit yang malah menyalah artikan kemisterianya, entah itu karena keputusasaan yang menggrogoti iman seseorang sehingga memvonis Tuhan tidak adil atas sebagian ketetapanya, atau seseorang yang menganggap bahwa akal adalah akar dari segalanya.

Hingga adapula yang berani benar-benar menampikanya. Menganggap keyakinan kepada qada' telah menghalangi produktivitas akal serta kerja keras mereka dalam menentukan nasib manusia di dunia serta kekhawatiran mendidik manusia bersifat reseftif berlebih, sehingga, pasrah pada waktu yang menentukan, atau sebaliknya, terlalu bergantung pada kemampuan sendiri sehingga timbulah manusia-manusia imanen yang jauh dari nilai-niai ketuhanan, materialis.

Dalam Islam sendiri, baik secara tekstual Al-qur'a dan Hadits ataupun ketetapn zumhur, Qadha dan qadar termasuk rukun iman yang wajib diyakni. Walaupun secara methode pemahamanya, rukun iman yang ke-5 ini telah mengalami beberapa peredebatan cukup pelik, bahkan diantaranya Jabariyah, Qadariyah, Syi'ah, Dzohiriyah atau Mu'tazilah telah menjadi pioner madzhab tersendiri dalam menentukan sikap ganjilnya terhadap rukun iman yang ke lima ini.

Hal ini menunjukan bahwa permasalahan tersebut bukan hanya terjadi di zaman sekarang saja, melainkan repetisi dari pemahaman sebelumnya. Bahkan disaat zaman (Tabi'in) dimana pemahaman para ulama tak lagi diragukan, karena masih banyak berpegang teguh pada orisinalitas ajaran Islam karena kedekatan mereka pada zaman Rasul dan para sahabat, akan tetapi permasalahan tersebut jutsru sudah hadir terlebih dahulu ditengah-tengah mereka.

Awal mula perbedaan pendapat dalam iman qada' dan qadar timbul pertama kali pada masa Umar bin abdul aziz, pada abad pertama hijriah. Diantaranaya kemunculan Madzhab Qadariyah dengan presepsinya bahwa Af'alul 'Ibad tidak diciptakan secara azali dalam arti kata tidak tertulis di Lauh mahfudz—. Menganggap bahwa manusia menciptakan af'al-nya sendiri secara transenden tanpa campur tangan Tuhan, baik secara qada' dan qadar maupun atas pengetahuan Allah atas maha ilmunya.

"Bagaimana Allah menciptakan keburukan sedangkan Ia melarang dan mengharamkanya sendiri?!, atau bagaimna Allah menciptakan Af'alul 'Ibad sedangkan Ia sendiri yang memvonisnya?!" demikian diantara alasan yang seringkali dilontarkan mendasari alasan mereka tentang penolakannya terhadap qada'dan qadar Allah.

Pembahasan Buku

Berikut ini penulis mencoba mepersentasikan sebuah buku kecil, sebuah buku yang mengupas permasalahan qadha dan qadar Allah, dengan disajikan secara singkat namun cukup padat dan berisi.

Buku dengan judul besar افعا ل الإنسان بين الجبر والاختيار dicetak dengan bentuk sederhana, dengan desgn mungil sehingga dapat dinikmati secara santai serta memungkinkan para pembacanya untuk menentengnya kemana saja.

Buku minimalis dengan cover berwarna biru terang tersebut diakarang oleh sorang ulama kontemporer bernama DR. Abdullah Nasih Ulwan, dan dicetak maktabah kenamaan cairo, Dar- el Salam, buku ini telah dicetak sebayak dua kali, edisi ke-2 dicetak pada tahun 2005.


Beberapa Keterangan Tentang Tadir.

Sebelum membahas buku yang akan saya persentasikan secara lebih jauh, berikut ini saya lampirkan beberapa keterangan mengenai bahasan taqdir yang saya kutip dari rubrik Akidah, Majalah Islam ar-risalah No. 96/Vol. VIII/12 Jumadal Akhir - Rajab 1430 H / Juni 2009 sebagaimana berikut ini:

"Takdir itu malam yang jangan kau lalui. Takdir itu lautan yang jangan kau selami. Takdir itu gunung yang jangan kau daki." Inilah jawaban khalifah Ali bin Abu Thalib radhiallahu 'anhu, saat seseorang bertanya kepadanya tentang takdir. Jawaban sang khalifah untuk orang yang menanyainya itu bukan berarti tidak boleh membahasnya sama sekali, tetapi lebih menggambarkan betapa bahasan takdir adalah bahasan yang mesti dipahami dengan seksama dan hati-hati. Orang yang melalui malam gulita, menyelami lautan yang dalam, dan mendaki gunung yang terjal haruslah berhati-hati jika tidak ingin celaka. demikian pula dengan membahas takdir.

Ada bagian tertentu dari bahasan takdir yang mesti dipahami, diyakini dan dipertahankan keberadaannya di dalam hati. Batas minimalnya yaitu keyakinan bahwa apapun yang luput dari seorang hamba memang bukan menjadi bagiannya dan apapun yang menimpanya bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenainya.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh Au Dawud dan Ibnu Majah yang dinyatakan shahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albany. Hadits itu diriwayatkan dari Abdullah bin Fairuz atau yang dikenal dengan Ibnu ad-Daylamiy. Dia bertutur, "Aku menemui Ubay bin Ka'ab. Aku mengadu kepadanya, 'Ada sesuatu tentang takdir yang mengganjal hatiku. Beritahu aku tentang sesuatu, kiranya Allah akan menyirnakan ganjalan itu dari hatiku.' Ubay menjawab, 'Seandainya Allah mengazab seluruh penghuni langit dan bumi-Nya ini, sesungguhnya Dia mengazab mereka bukan lantaran Dia menzalimi mereka. Dan seandainya Dia merahmati mereka, sesungguhnya rahmat-Nya itu lebih baik dari amal-amal mereka. Seandainya kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menerimanya sehingga kamu beriman kepada takdir dan mengerti bahwa apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu yang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenaimu. Seandainya kamu mau tidak dengan menyakini hal itu, kamu pasti masuk neraka.' Kemudian aku menemui 'Abdullah bin Mas'ud. Dia memberikan jawaban yang sama. lalu aku menemui Hudzaifah bin Yaman, Dia pun memberikan jawaban yang sama. Setelah itu aku menemui Zaid bin Tsabit. Dia malah menyampaikan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang semisal dengan ucapan Ubay."

Sebuah hadits lain diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari walid bin 'Ubadah, katanya, "Saya menemui 'Ubadah saat dia sakit keras. 'Ayah,' kataku, 'Berwasiatlah kepadaku dengan wasiat yang paling berharga.' Beliau berkata, 'Dudukkanlah aku!' Kemudian beliau berkata, 'Anakku, sesungguhnya kamu tidak akan pernah merasakan nikmatnya iman dan tidak akan sampai kepada hakikat ilmu tentang Allah Tabaraka wa Ta'ala dengan sebenar-benarnya sehingga kamu beriman kepada takdir, yang baik dan yang buruk.' 'Wahai Ayah, bagaimana aku harus mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?' tanyaku. Beliau menjawab, 'Hendaknya kamu mengerti bahwa apapun yang luput darimu memang bukan sesuatu yang menjadi bagianmu dan apapun yang menimpamu bukanlah sesuatu yang salah sasaran sehingga mengenaimu. Anakku sungguh aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Benda pertama yang diciptakan oleh Allah Tabaraka wa Ta'ala adalah Pena, kemudian Dia berfirman, 'Tulislah!' Maka Pena pun menulis segala yang akan terjadi sampai hari Kiamat.' Wahai Anakku, jika kamu mati sedangkan kamu tidak meyakini hal itu, kamu akan masuk neraka.'."

Jika seseorang meyakini bahwa segala yang luput dari dirinya memang bukan bagiannya dan bahwa segala yang menimpanya memang itulah bagiannya, baik itu berupa kebaikan maupun keburukan, niscaya orang itu akan memiliki hati yang tegar. Lebih tegar dan kokoh daripada besi ataupun batu karang.

Sungguh, ketegaran seperti itu telah dimiliki oleh orang-orang Jahiliyah sebelum Islam datang. Kata Ibnu Taimiyah, "Jika ditimpa musibah, orang-orang Jahiliyah biasa menghibur diri mereka bahwa itu adalah qadha' dan takdir. Demikian pla dengan orang-orang musyrik Mekah. Mereka pun menghibur diri mereka bahwa itu adalah qadha' dan takdir."

Salah seorang ulama salaf berkata, "Barangsiapa yang tidak beriman kepada qadha' dan takdir maka dia tidak akan dapat hidup tenteram dan tidak akan pernah merasakan lezat dan nikmatnya kehidupan."

Jika seseorang meyakini bahwa segala kebaikan maupun bencana yang menimpanya sudah tertulis di Lauh Mahfuzh jauh sebelum langit dan bumi diciptakan, dan bahwa di balik itu semua ada hikmah Allah yang dalam, niscaya dia akan menjelma sebagai manusia yang kokoh dan tegar. Sekokoh besi setegar batu karang.

Sesungguhnya musibah atau segala kesulitan yang diujikan oleh Allah terhadap seorang hamba adalah untuk kebaikan si hamba itu sendiri. Sebab dengan musibah atau ujian itu, derajat keimanan seseorang akan ditinggikan oleh Allah atau dosa-dosanya akan dihapuskan. Mesjipun jika orang itu tidak ridha dan tidak bersabar, musibah dan ujian dapat menambah lemah iman dan memperpanjang daftar dosa yang dilakukannya. Allah Ta'ala telah menyatakan bahwa Dia tidak akan membebani hamba-hamba-Nya dengan beban yang melebihi ambang batas kekuatan mereka. memang hanya orang beriman dan kayyis (cerdas) saja yang bisa menyikapi musibah sehingga menjadi suatu kebaikan. Orang yang tidak cerdas akan menjadikan satu musibah menjadi dua musibah.

Pembahasan Buku

Secara umum, methode penulisan disajikan dengan tema tanya-jawab sehingga cukup memudahkan pemahaman bagi para pembacanya.

Bahasan dalam buku ini terdiri dari dari 10 bab dengan 9 judul besar. Mula-mula diawali dengan muqaddimah pada Bab pertama. Bab Kedua tentang hakikat insan, gerakan, dan prilakunya hingga bab ke-8 tentang sebab-sebab turunya Hidayah, dan diakhiri dengan daftar isi pada bab ke-sembilan.

Ada satu pertanyaan menarik, yang mungkin hampir semua orang pernah terdetik dalam benaknya;

1. mengapa orang kafir (yang jelas-jelas tidak beriman) mampu menguasai/selalu diidentikan dengan perkara duniawi, sebaliknya, orang mu’min yang beriman kepada Allah tidak banyak yang dapat melakukanya ?

Jawaban:

Harus kita bedakan antara perkara duniawi dengan perkara at-Taklifiyat As-Syar’iah yang dibebankan Allah kepada setiap makhluknya.

a. Untuk perkara dunia, Allah memeberikan hak yang sama baik kepada orang Mu’min maupun kafir. Dalam arti kata Allah memberikan porsi yang sama bagi keduanya, yaitu manakala mereka bersungguh-sungguh dan bekerja keras dalam mendapatkanya.
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan di dunia dan tidak tidak ada suatu bagianpun di akhirat.” (Q.S. Asy-syûrâ: 20)

b. Sedangkan untuk perkara At-Taklifiyaat Asy-Syar’iah, Allah hanya mengkhususkanya bagi orang mu’min saja. Bahkan jika seorang mu’min benar-benar menjalankan At-Taklifiyah Asy-Syar’iah secara kaffah, niscaya manusia denganya dapat memperoleh keselamatan dunia dan akhiratnya. Sehingga seorang mu’min mampu bersabar atas bala yang didera, tersenyum atas segala cobaan, dan bersikap lapang serta ridha terhadap apapun yang dihadapinya, dengan sikap itu, manusia kemudian memperoleh ampunan atas segala dosa-dosanyam, memperoleh derajat yang tinggi dan ditempatkan disisi Allah yang mulya.
“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa Innaâ ilaihi raji’ûn. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Q.S. Al-baqarah:155-157 )

Kekurangan Buku

Pada dasarnya buku ini merupakan buku bacaan sederhana, tidak menjadi buku rujukan, sebagaiaman kitab-kitab rujukan lain yang seringkali dijadikan referensi dan sandaran dalam pembahasan qada dan qadar Allah.
Untuk itu, dari segi methode penulisan, buku ini tidaklah cukup disebut sebagai penulisan karya ilmiah. Disamping tidak disertai daftar pustaka dan referensi mencukupi, keculai beberapa yat-ayat alqur’an saja, buku ini juga tidak dilengkapi biografi penulis.
Walaupun demikian, sebagaiamana telah dijelaskan diatas, buku ini cukup memberikan penjelasan yang cukup singkat namun padat. Disajikan dengan cukup menarik, meliputi pertanyaan dan jawaban yang disertai dalil-dalil serta adanya keahlian ilmu kalam yang dikuasai penulis, sehingga penyajian bahasan agaknya akan mengajak pembaca bukan sekdar menikmati tetapi juga berpikir dan merenungkan isi bahasan. Bahkan, agar lebih mudah dipahami penulis nampaknya sengaja menuliskan beberapa contoh real dalam kehidupan sehari-hari yang seringkali terjadi berkaitan dengan pembahasan yang dimaksud.

Epilog

Bayak sekali pembahasan buku yang saya persentasikan kali ini yang luput saya cantumkan dalam makalah ini, unutuk ini saya menyarankan agar peserta diskusi untuk dapat memilikinya, bukan saja kara mura hargnya sehingga dapat mudah dijangkau, akan tetapi lebih kepada manfa’at yang terkandng di dalamnya.

Wallâhu a’lam bii as-Showâb
Read more...

Sunday, April 25, 2010

Cinta & Kerinduan

Kenapa rasa cinta begitu menyiksa.....?
Kenapa rasa rindu selalu mengusik, menghujam dan menusuk.....?

Cinta..oh cinta...

Ternyata banyak hal yang aku sendiri tak banyak tau tentang arti cinta.....
Cinta palsu atau cinta sejati.....
cinta biasa atau cinta yang sempurna....


Oh cinta...

Cintakah yang membahagiakanku, menguatkanku, melemahkan aku, menakutiku bahkan menggilakan aku....?

Cinta....
Jika engkau adalah cahaya, maka sinarilah hatiku, maka sinarilah kegelapanku.
Jika engkau air, maka hadirlah saat aku dalam dahaga, maka suburlakanlah setiap ketandusan.
Dan Jika engkau mutiara, maka tunjukan samudra manakah yang harus ku selami.

Cinta...
Dan, tak selayaknya aku mengotori arti sucimu dengan kekasaran dan fitnahan-fitnahanku...

Dimanapun engkau dan kapanpun berada wahai engkau Cinta....
Engkau tentu bukanlah biang yang menyakitkan, yang menjijikan, yang melemahkan dan sederet kata keburukan lainya.....

Cinta....
Memang engkau banyak dipuja-puji.....
dinanti-nanti.....
dicari-cari...
Sampai mati...

Tapi sadarkah engkau cinta....
Banyak pula engkau dicaci dan dimaki
Banyak orang yang setiap hari mengeluh karenamu
Banyak orang yang mabuk tak tentu arah karenamu
Bahkan orang rela menyakiti dirinya sendiri karenamu.....


katanya engkau kekuatan..?!
Katanya engkau keikhlasan..?!
Katanya engkau cahaya..?!
katanya engkau keindahan...?!


Wahai Maha Pemilik cinta......
Ternyata memang hanya Engkau satu-satunya pemilik cinta sejati, pemilik cinta abadi, yang percikan cintanya tak seorangpun pernah tersakiti.

Wahai Pemilik cinta...
Engkau yang tak pernah berhenti mengabdi kepadaku, bahkan ketika aku lalai mengabdi kepadaMu

Engkau yang menutupi setiap aib-aibku, bahkan ketika aku berbangga diri dan mengumbar sendiri aib-aibku.

Engkau yang perintahkan aku selalu meminta kepadaMu, bahkan disaat orang-orang enggan ketika dipintai hak-hak dan kewajibanya.

Dengan cintaku aku dekatkan diri kepadaMu, lalu Engkaupun cintai aku dan dekati aku lebih dekat dari nyawaku sendiri.

Wahai pemilik cinta....

Berilah kekuatan CintaMu.

Hingga hatiku tetap sama,
ketika mamandang kilauan emas atau kelamnya batu.
ketika memandang istana atau gubuk sederhana.
Ketika memandang bidadari atau perempuan biasa

Hingga hatiku tetap SATU

Ketika terang atau gelap-gulita
Ketika dupuji atau dicacimaki
Ketika sendiri atau dalam keramaian
Ketika air berlimpah atau kering dan bertandus

Seandainya kau segera tunjukan keindahan taman-tamanMu, kemolekan bidadari-bidadarimu, kesejukan alam kekalMu. Niscaya Keindahan dunia, menariknya wanita dan menggodanya wanita. Tak lagi aku hiraukan mereka, tak lagi berarti, dan tak lagi menyilaukan mata hati.....

Seandainya segera kau tunujakn panasnya alam kekalMu, bengisnya mlaikat-malaikatMu. Niscaya tak lagi aku mengeluh dengan panasnya waktu zduhur, terlena nikmatnya tidur pertengahan malam-malamMu, dan tak sudi lagi aku berbagga diri, atau pongah dengan kelebihanku-kelbihanku.

Tapi aku sadar, aku hanya manusia biasa, dan seandainya misteri-misteri itu terjadi sebelum waktunya, buat apa ada syaithan, buat apa ada usaha, karena semua tentu dengan akan mudah tunduk kepadaMu. Dan bisa jadi malaikat-malikatMu akan kebingungan membedakan hamba pilihan, hamba biasa, dan hamba gila.

Dan, aku sadar makin Makin lama nulis ko semakin ngawur yach..? he..he..


Tapi yang jelas.....

Mungkin inginku begini....

Wahai pemilik cinta.....
Izinkanlah aku mereguk cawan cintaMu sedalam-dalamnya, seluas-luasnya.

Tapi kemudian, ingin segera aku titipkan kembali, ku kembalikan kembali....
Cinta-cinta yang berhamburan, diantara cinta-cinta yang palsu, diantara cinta-cinta yang membebaniku, diantara cinta-cinta yang menjuhkanku dari cintaMu.

Tapi.... biarkanlah dahulu aku selalu merasa kekurangan dengan makna dan arti cintaMu, agar aku selalu berusaha membukanya, mencarinya dan menyusunnya perlahan.
Lalu memperbaikinya kembali, merapihkanya kembali, dan selalu memperbaharuinya kembali, di setiap detik, jam, hari, tahun demi tahunku menuju janji-janji Mu
Read more...

Saturday, April 24, 2010

Nadi Salab.

Setiap ada pertanyaan, olahraga apa yang paling kamu sukai? tanpa berpikir panjang *karena akan kelamaan* pasti gw bilang, bola....!!!!, dan seluruh duniapun menyahut tanda setuju "oloh-oloh....*

Brader......, waktu itu KPMJB ngadain futsal persahabatan antara Dp dengan Tim Siliwangi, di nadi Salab Zahro. Acara dimulai semenjak jam 8 pagi, ok.


Nah, karena banyak banget yang dateng......*asal tau sendiri yaa..... kalo kegiatan yang ada bolanya......yang dateng pasti ribuan* 'itupun kalo dihitung sama rambut2nya' ckckc..., akhirnya tim bola dibagi 4 tim, selain DP dan Siliwangi juga ada tim serabutan alias tim warga.

Termasuk gw yang so imut dan (g pake 'so')ganteng, dateng ke lapangan dengan celana sontog, kaus belang2 kayak zebra, sepatu putih dari Attabah (yang ini promosi) huahua.

Kucruk...kucruk.. dateng dengan gaya, kayak pemain bola dunia dan akhirat *lhoo ko?!*

Anyway permainan berjalan dengan lancar....satu sama lain saling serang, saling bertahan dan saling bacok...wakwkwk emang lagi twuran jang... saling bacok....?!

Putaran pertama tim gw kalah tipis 1-0 dari tim siliwangi....gw yang waktu itu main sebagai stiker "tempelan", tidak terlalu bisa walakaya, sebab seacra fisik gw lelah berat, akibat pertempuran kemarin siang di Nadi Madrasah sama anak2 Pakeis.

Ketika putaran kedua, baru gw bisa mengungguli...menang 1-0, hore..!!!!

Cuma masalah besar dan sial bagsaaaattttttt.....*banget* maksudnya...ah! Pas putaran terakhir.....gw sebagai stiker handal.....kesenter bola aanjrooott..!! dengan sangad dobit alias dobthon.... bola yang diperebutkan gw sama Agus, akhirnya berputar-putar dengan kecepatan 1 kilo perjam dan dengan sangat teladan sang bola bertengger di mata sebelah kanan gw.....

ougrhhhhh, sakitnya agan...~!!!!!!

Kalo gi ga banyak orang mungkin gw udah nangis lolongseran di lapangan kayak anak kecil umur 4 tahunan pengen dibeliin mobil Mercy. haik..haik *kucing mau muntah*

Kesan pertama waktu gw kesenter bola......adalah sedih, sebagai bukti, mata gw ngeluarin air mata...hiks..hiks!!

Asli gw sedih banget....karena, waktu itu mata gw bener2 ga bisa liat...semua putih melempem, pandangan gw bener2 kabur...., pikiran gw udah kemana2 waktu tu,..
jangan2....gw buta...jangan2 ini rahasia di balik futsal...jangan2 ini akibat nonton filmnya Jupe, jangan2..jangan be'ol di jalanan!!! wkwkwkw.

Asli...gw merasa mungkin gw kurang bersyukur, mungkin Allah menyuruh gw untuk tobat dan selalu ingat atas segala nikmat2nya, terutama nikmat mata...semua perasaan itu datang menyelimuti seluruh isi hati dan luubuk hati gw yang paling dalem...dalem banget....hachimm *gw bersin*

Benar apa kata orang....kita akan sangat merasa dekat dan sangat bersyukur saat kita sedang kehilangan. Benar...kadang kita kurang menyadari betapa besar nikmat mata berupa pandangan yang Allah berikan kepada kita. sadar2 ketika sedang sakit mata, MasyaAllah.....

Samapi gw menulis diary ini, mata gw masih sering sakit2an, terutama ketika melihat sinar secara langsung...mungkin gw kena iritasi cukup parah...tapi alhamdulillah gw udah sempet berobat...cuma dokter ga sempet periksa, dia cuma ngasih gw obat mata. Mudah2an kedepanaya gw bisa sembuh total seperti biasa...amiiin.

Pesan moral: "jangan sampai cium cium bola pakai mata ketika futsal berjalan" berbahaya...!!!!
Read more...

Friday, April 23, 2010

Sersan

Kenapa harus santai.....?!
Kenapa harus rilex.....?!

Kata santai atau rilex, mestinya selalu akrab dalam setiap ingatan kita, atau paling tidak, menjadi sikap pilihan saat kita menghadapi sebuah permasalahan. Santai atau rilex bukan berarti kita menunda-nunda pekerjaan, cuex bebek, acuh atau sejumlah konotasi lain yang disematkan pada dua kata ini . Kenapa demikian?! Karena menurutku kata santai dan rilex juga bisa dikonotasikan pada hal negatif. Misalnya; “udah deket ujian, ko masih bisa santai-santai??! ”


Seringkali istilah sersan (serius tapi santai) terdengar dalam berbagai acara. Biasanya istilah ini diucapkan seorang pemimpin kepada para anggotanya, sebelum atau saat sedang dimulainya acara. Baik itu di pelatihan, orientasi atau bahkan ketika pelajaran di sekolahan berlangsung.

Sikap santai dan rilex erat kaitanya dengan kondisi psikologi sesorang. Terutama penguasaan emosi dan kejiwaan.

Saya pernah mengalami beberapa kejadian menarik tentang pentingnya sikap santai dan rilex dalam arti positif tentunya, okey..Mudah-mudahan menjadi buah pelajaran.

Seorang teman pernah menceritakan kejadian mengharukan tentang seorang teman SMAnya yang tiba-tiba meninggal selepas mengikuti olimpiade matematika. Menurutnya, sekitar sebulan sebelum dimulainya olimpiade, dia berjuang keras mempersiapkan materi olimpiade yang akan diujikan. Adanya keinginan yang kuat serta ambisi yang besar untuk memenagkan ujian, membuatnya belajar mati-matian. Bahkan saking keasyikannya belajar, seringkali waktu tidur dan makanpun terabaikan.

Diakhir penantian, saat olimpiade akan dimulai sore hari, tepat pada paginya dia merasakan gejala-gejala aneh yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan, seperti mata kuang-kunang, pusing kepala, dan letih yang sangat. Sempat dia bertanya kepada teman-tamanya, “ko mataku kunang-kunang…?”. Kahwatir dengan kondisi fisiknya yang kurang vit, baik guru maupun teman-temanya menyarankan agar dia merelakan untuk tidak ikut olimpiade.

Walaupun dengan keadan kurang vit, anjuran tersebut tak lagi dihiraukanya. Menurtnya, bagaimana mungkin perjuangan selama satu bulan harus dia siasakan dalam waktu bebrapa jam saja?!.

Seusai mengikuti olimpiade, pusing dikepalanya serta mata kunang-kunangnnya semakin parah, bahkan kata-katanyapun mulai tak lagi terkontrol. Lalu dia tertudur, dan didalam tidurnya di menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah diteliti, ternyata ketidakrilexan-nya telah membuat semacam paksaan terhadap saraf-saraf otak untuk bekerja non stop, sehingga saraf-saraf itu putus dan menyebabkan kematian. Inalillahi....


so, to be SERSAN (serius tapi santai).....:)) ok..
Read more...

Tuesday, April 20, 2010

Prosma

Berawal dari Prosma. Dulu kita sempat ingin menghapuskan materi Catar (catatan harian), karena menurtku catar itu ga penting2 amat. Nulis catar ga usah ada aturan baku, itu terserah mood orang *menurutku waktu itu* lagian pematerinya udah balik duluan ke indonesia, dan itu diamini oleh sodara saya Ayok. Iyakan Yok..?! he..

Tapi ternyata Mbak Desi, merubah anggapan itu. Menurutnya, banyak penulis handal yang berangkat dari Catar. Sebut saja diantaranya Franklin *klo ga salah tulis* seorang penulis terkenal dari belanda yang menuliskan diarynya saat dia dikejar-kejar tentara Nazi ketika PD ke-II, atau Andrea Hirata, Raditya Dika dsb, dsb.

Singkat kata, catar itu penting. Tapi siapa yang mau ngisi, “kita ga punya pemateri” kata saya dan Ayok sambil ngelirik dan ngerayu mbak Desi. Karena merasa tertodong *mungkin sich… :D* mbak Desi kemudian tak bisa menolak rayuan Ayok, lalu pasrah menerima kesediaan dari Prosma untuk jadi pemateri Catar. Hore…!!!

Nutrisi2 kepenulisanan Mbak Desi saat materi catar sangat inspiratif, bahkan mampu merubah tanggapan umum kita tentang apa itu urgensi catar. Sebagai bukti, 2-3 hari setelah selesainya materi tersebut, ada beberapa anggota prosma yang nyata2 dia anti banget sama catar/diary, kemudian tiba2 mentag tulisan diarynya ke FB-ku.

Dengan bentuk pengalaman biasa/umum-umum saja, tetapi disajikan dengan gaya penulisan menarik, naratif, deskriptif, kadang eksotik juga kali ya…*padahal sya belum tau apa arti eksotik* heuheu.. dan juga bagaimana seorang penulis bersikap jujur terhadap apa yang dialaminya lalu menuangkanya dalam bentuk tulisan. Keurenn…!

Dari sini saya beranggapan, wah..mbak Desi berhasil, mana mungkin seorang yang anti diary dengan anggapan *melankolis, ke pink2an, terlalu mendamatisir keadaan delele) lalu tiba2 menuliskan diarynya dengan cukup baik layaknya orang yang terbiasa nulis diary. Wah terimakasih mbak Des…

Oh iya, karena Prsoma udah selesai, saya ingin berterima kasih kepada semua
temen-temen Prosma, utmanya kepada para Pemateri (Mbak Desi Hanara, Keh Kadarisman, Mang Rashid Satari, Mang Teguh Hudaya, Ust Syukur,) atas pengorbanan waktu serta aktivitasnya, terimaksih banyak mudah2an ilmu2nya bermanfaat. Juga Ayok *Prosma tanpa ayok kayaknya ga bakal jalan dech.., makasih Yok* Juga sahabat2 Prosma semua yang sudah mengikuti sejak awal hingga akhir, atau yang berhalangan. Terimakasih. Terimakasih juga buat DP KPMJB, DP Fosgama dan Pasangrahan atas segala bantuan, mulai tempat, pendanaan, waktu yang terganggu, semuanya pokoknya.

Tak lupa, saya secara pribadi, dan Manggala-Prosma sebagai pihak penyelenggara, memohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Semoga kita selalu tetap menjalin silaturrahim, dan senoga kita tetap terus berkarya amiiin….:d
Read more...

Tuesday, March 16, 2010

Para Pengemis


Disuatu pagi, sekitar pukul 07.30 sepulangnya dari rumah teman, aku berjalan di trotoar sempit antara pertigaan Ahmad Said menuju Asrama Buust melewati Sinagog Yahudi yang tak berfungsi tapi mulai diperbaiki dan dijaga ketat oleh dua orang polisi. Selanjutnya melewati pertigaan Nadi Moyah tentunya. Seperti biasa, rute Robea Al adwayiah-Buust via pertigaan Ahmad Said merupakan salahsatu pilihan alternatif bagiku bahkan bagi kebanyakan masisir yang tinggal di asrama Mission City bila bis biasa tak kunjung tiba.

Trotoar tersebut masih terlalu sepi dan sempit, sesepi negri Mesir dikala pagi dan sesempit kebanyakan trotoar di negri ini. Jalananpun masih cukup senggang hanya sesekali dilewati kendaraan pribadi, “mungkin mereka salah satu yang punya janji, janji untuk keluarga atau untuk dirinya sendiri” gumamku dalam hati. Hampir tak ada kendaraan umum atau malah tak ada sama sekali, apalagi saat itu masih H-3 dari lebaran Haji.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba aku merasa diikuti oleh sesosok orang, dan akupun merasa sewajarnya bila menaruh curiga. Selanjutnya, ku lirikan mataku ke arahnya. Beruntung kawan, ternyata dia hanya seorang bapak-bapak paruh baya namun jalanya seperti terburu-buru. Merasa dicurigai anak muda “tampan” macamku, si bapak mengalihkan jalanya ke tepi jalan. Dan kawan, saat-saat seperti inilah aku merasa berdosa, kenapa tadi aku harus curiga? Kenapa tak kutanya terlebih dahulu. Bapak penjahat atau bukan? Jika bukan, tentu kan’ ku ajak dia berkawan. Jika ya, tentu kan’ ku keluarkan jurus-jurusku, jurus teriak maut atau jurus lari terbirit-birit. “tapi ah...ku kira jangan kawan, ide itu terlalu canggih!”

Setelah mendekati pertigaan nadi Moyah, aku teringat sesuatu, yah...teringat dengan sesosok bapak tua yang tak berkaki, dan seringkali dia mangkal di pertigaan itu. Aku teringat dengan keikhlasanya— ketulusanya menyapa setiap pejalan kaki dengan salam, senyum lalu doa kebaikan, akrab...akrab sekali. Fisik bapak itu tak sempurna, dia tak berkaki, sehari-harinya duduk diatas skateboard sederhana, jika berjalan roda-roda besinya akan mengeluarkan suara yang bisingnya minta ampun, “kruuuuk...krurrrk” mengalahkan suara kendaraan yang hilir mudik di hadapanya. Entah siapa yang membuatkannya, anak-anaknyakah, saudaranyakah, yayasan sosialkah, atau malah dibuatkan olehnya sendiri?!

Berjalan, makan, menerima uang, semuanya dilakukan dengan kedua tanganya, hati siapa yang tak kan iba memandangnya? Tapi ketulusanya, senyuman dan kepolosan sapaanyanya kepada setiap pejalan kaki telah membuat aku kagum dengan sosoknya. Senyumanya telah mengajariku agar jangan pernah mengeluh, ketulusanya telah mengajariku agar aku selalu bersyukur, sapaanya telah mendidik jiwaku agar dapat selalu menikmati kehidupan fana ini disaat sempit maupun lapang, disaat kaya maupun miskin. Dan kawan, aku tak pernah melihat beliau menengadahkan tangan seperti kebanyakan pengemis lainya, dia hanya akan tersenyum lalu menyapa setiap pejalan kaki.

Wajahnya sedikit menghitam, mungkin karena seharian dibawah sinar mentari juga karena asap volusi. Beruntung kawan, senyumanya selalu menyegarkan wajahnya kembali. Mungkin dalam senyumnya ada kesyukuran lalu berusaha memberikan sodaqah sederhana bagi tiap pejalan kaki. Dalam ketulusanya ada ketegasan, ketegasan bahwa dia sedang menikmati taqdir Ilahi. Atau jangan-jangan dia seorang kesatria, kesatria yang tak pernah mengeluh pada nasib atau pada ketetapan Tuhan yang penuh misteri lalu dia berusaha mensyukurinya. Sayang waktu itu aku tak menemukanya, lalu tiba-tiba hati ini merindukanya.

Fenomena pengemis di jalanan, di bis bahkan dimanapun kita temukan, tentunya tak selamanya berimplikasi buruk. Bukan melulu pemandangan seorang pengangguran atau gambaran negara berkembang yang sedang mengalami frigid dan tak maju-maju—bisa jadi karena anggarannya banyak dimakan koruptor atau malah kebanyakan menggajih dewan, lantas tak mampu lagi ciptakan lapangan pekerjaan.

Malah, Jika dengan hati terbuka maka kita akan melihat pemandangan makhluk-makhluk “lusuh” yang pantang menyerah, walaupun bukan dengan “profesi” yang mereka cita-citakan namun diantaranya tetap ikhlas, sabar mejalani hak providensil Tuhan yang digariskan. Keberadaanya senantiasa memberikan pelajaran berharga, yaitu pelajaran bersyukur dan gerakan saling mengasihi.

Kawan, Ada perbedaan cukup kontras antara fenomena pengemis di negri ini dengan di tanah air kita, “menurutku”. Di Mesir, hampir saja aku tak menemukan pengemis yang tak berbaju lusuh apalagi sampai memaksa kasar. Di Indonesia, pendidikan mengemis malah banyak di galakan, menyedihkan..! Di dalam bis kota seorang pengemis tak ubahnya seperti preman pelabuhan, tubuhnya kekar, wajahnya menyeramkan dan tak sungkan mengancam. Sayang, tubuh yang gagah dan kekar namun mentalnya peminta-minta.

Prie GS, dalam tulisanya, dia pernah bertemu seorang bapak paruh baya di dalam angkot. Suatu ketika si bapak menolak dipungut bayaran, tampangnya seperti kebanyakan. Tentu menjadi sangat ganjil jika menolak bayaran.

“saya ini pengemis” ujarnya kepada karnet. Kemudian terjadi adu mulut antara si karnet dan si bapak yang mengaku pengemis tersebut. Tak lama kemudian, adu mulutpun berakhir itu terjadi setelah si bapak menunjukan sesuatu dari tasnya, sambil berujar, “ini pakaian ngemis saya..!” si kornetpun melongo keheranan. Ironis..!

Bahkan para pengemis kita duduk-duduk santai di kursi dewan, mengaku pembantu rakyat tapi sering ketiduran saat berlangsungnya sidang malah kadang gila jabatan. Bahkan ada juga pengemis di kantor-kantor sekolahan, mengambil sogokan dari tiap wali nakal yang punya anak nakal. Atau baru-baru ini di kantor-kantor kepolisian atau kejakaan, hilang keadilan gara-gara ngambil “tambahan”. Menyedihakan..!

Lalu siapa yang akan disalahkan...!?, Penjajahan Belandakah yang tega menjajah kita selama 3,5 abad dan secara tidak langsung mendidik pendahulu kita untuk bermental abid. Atau orde barukah yang telah mengekang kebebasan kita selama 32 tahun...!? Ah’ rupanya aku terlalu sok tahu, padahal semuanya tergantung pada diri kita sendiri.

Terkadang aku berpikir, jangan-jangan aku malah one tipe dengan mereka (para pengemis; red). Walaupun dengan pakaian sedikit lebih rapih, fasilitas kehidupan sedikit lebih lengkap misalnya, sudah berani mengemis jarak, biaya dan waktu kepada orang tua misalnya, tapi aku malah berani banyak-banyak berdiam diri lalu asyik tiduran. Memohon ilmu kepada guru, tapi malas mengamalkan. Aktiv di beberapa kegiatan misalnya, tapi aku malah mengemis pujian. Banyak berkarya tapi aku gila ketenaran. Oh...tidaaaaaak...!!!

Ok..ok kawan, mudah-mudahan kita tidak seburuk itu, semoga hati kita selalu tetap siaga, ikhlas saat sempit maupun luas. Semoga kita termasuk hamba yang pandai bersyukur, bersyukur dengan apa yang ada lalu bersyukur dengan tetap mengoptimalkan setiap waktu dan kesempatan serta mengedepankan asas manfaat, bukan hanya untuk pribadi bahkan untuk masyarakat yang lebih luas. Khairu annasu anfau’hum linnas.
Wallahua’lam
Read more...